Navigation Menu

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Pendidikan 4.0 vs Covid-19

 

Berkarakter mandiri dalam belajar (foto: dokumen pribadi)

Perkembangan teknologi informasi di era pendidikan generasi ke empat (4.0) menuntut adanya transformasi pola pikir guru dari sumber ilmu pengetahuan menjadi fasilitator. Posisi guru bukan lagi sebagai pemberi materi, tetapi mengarahkan peserta didik agar mampu mencari materi atau informasi secara mandiri. Itulah jawaban atas pertanyaan: ada dimana guru sekarang di tengah berjangkitnya Covid-19 di tengah masyarakat Indonesia yang sepenuhnya telah menjadi mesin (baca: artificial intelligent)? Pada pendidikan 4.0 di tengah masyarakat yang teknologis  tentu bukan eranya lagi jika proses pembelajaran masih mengandalkan guru di ruang-ruang kelas. Metode pembelajaran yang diterapkan adalah siswa dapat belajar mandiri dan mengelola kelas yang kreatif di rumah, khususnya ditengah merebaknya pandemi Covid-19.

Guru harus piawai menjadi nahkoda sekaligus arsitek pembelajaran yang bekerja dengan bantuan peranti-peranti digital. Banyak situs maupun aplikasi media sosial atau mobile yang dapat dipakai sebagai media pembelajaran. Blackboard K-12 melakukan survey terhadap 90 persen administrator Mobile Learning Explorer dan menyatkan bahwa komputer mobile meningkatkan potensi siswa untuk sukses (Speak Up 2009 Survey). Guru saatnya  membuka mata bahwa bahwa perkembangan teknologi dan artificial intelligent adalah sebuah keniscayaan. Guru harus “dipaksa” untuk segera melek digital dan menggunakan aplikasi mobile atau gawai dalam pengembangan pembelajaran.

Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer tablet, smartphone, ipods dan lain-lain bisa dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar peserta didik yang dilakukan secara mobile (bergerak). Digitalisasi pendidikan tak bisa dihindari dan dunia virtual bisa menjadi sekolah. Kita memiliki tantangan dalam menghadapi  Programme for International Student Assesment (PISA). Skor PISA Indonesia yang masih rendah merupakan cermin kegagalan pendidikan kita dalam menjalankan UU No. 20/2003 yang merupakan amanah rakyat. PISA sebagai hajatan internasional yang menguji kemampuan peserta didik usia 15 tahun melibatkan 600 ribu peserta didik yang mewakili 32 juta peserta didik seluruh dunia dari 79 negara. Skor Indonesia pada 2018 dalam kemampuan membaca, matematika, dan sains secara berurutan adalah 371, 379 dan 396. Ini masih berada di bawah rata-rata peserta negara OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development).

Peserta didik saat ini adalah bagian komunitas dunia yang berbasis digital dan akan menyumbang peran bagi Indonesia agar  berkesempatan untuk menjadi Trully Digital Economic Super Power. Namun budaya penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan harus berkelindan dengan budaya ilmu kemanusiaan agar penggunakan teknologi di sekolah tidak menjadi menyebabkan  kenakalan pada peserta didik. Inovasi-inovasi dalam pendidikan 4.0 tetap berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan. Formulasi STEM yaitu sains, teknologi, engineering dan matematika tidak boleh mengabaikan humanities, arts, and social sciences atau HASS. Hanya dengan seni, budaya dan kerohanian peserta didik tidak akan terjerumus pada kenakalan remaja dan tidak akan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan di tengah gempuran  teknologi. Toomas Hendrik Ilves, Prseiden Estonia mengatakan bahwa minimnya dialog di antara dua budaya, budaya sains-teknologi dengan budaya kemanusiaan, akan memunculkan permasalahan keamanan di zaman digital ini.

Dengan semangat merdeka belajar, siapapun kita dan apapun  profesi kita sejatinya adalah guru pembelajar, guru merdeka dan guru berdaulat. Kemauan kita untuk  mengonstruksikan kreativitas, pemikiran kritis, semangat gotong-royong serta literasi digital di era pendidikan 4.0 sangat berarti bagi generasi  millenials yang akan segera masuk dalam kelas Emerging Affluent.  

#cerdasberkarakter #merdekabelajar


Tongkang-tongkang Emas Hitam dari Pedalaman Kalimantan Penerang Mayapada

 

Foto: www.esdm.go.id
Foto: www.esdm.go.id

Saya berdomisili dan bekerja di sebuah kabupaten berjuluk “City in the Jungle” di pedalaman Kalimantan yaitu Kabupaten Barito Utara. Setiap berangkat kerja saya selalu melewati Jembatan KH. Hasan Basri yang menghubungkan kota Muara Teweh dan kota Palangkaraya serta Banjarmasin. Jembatan ini membelah Sungai Barito yang biasa dilayari oleh tongkang dan kapal besar  pengangkut batubara. Sungai Barito yang berkelok-kelok melewati  beberapa kabupaten di pedalaman Kalimantan menjadi saksi bagaimana berjuta-juta ton emas hitam atau  batubara diangkut menggunakan tongkang melalui sungai. Apabila air surut maka tongkang dan kapal besar pengangkut batubara berhenti beroperasi. Demikian juga apabila air pasang atau di atas batas normal, tongkang - tongkang pengangkut batubara tidak bisa lewat karena terhalang oleh jembatan KH.Hasan Basri. Rencana pembangunan rel kerata api sepanjang 425 kilometer yang membentang dari “jantung” Borneo  hingga ke pelabuhan dekat Laut Jawa juga belum ada eksekusi di lapangan.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Banyak tenaga kerja dari pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi dengan berbagai tingkat pendidikan, dari sarjana hingga pendidikan menengah  mendatangi cekungan tersier sumber energi di pulau Kalimantan. Mengelola kekayaan alam sekaligus harta pusaka yang terpendam dalam bumi Borneo menjadi magnet tersendiri  dan telah membuka luas lapangan pekerjakan untuk rakyat Indonesia yang memiliki kemampuan dari beragam kualifikasi pendidikan atau disiplin ilmu. Dedikasi anak bangsa yang siap menjadi tenaga kerja Indoneisa dengan upah  relatif murah menjadi salah satu penyebab batubara Indonesia hadir dengan harga yang kompetitif di pasar global.  Lebih-lebih lagi batubara terbaik sejauh ini masih terdapat di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.  

Menurut data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilansir oleh databooks, di provinsi Kalimantan Timur  sendiri masih terdapat cadangan batubara sekitar 48.180.000.000 ton. Sementara itu  provinsi Kalimantan Tengah memiliki potensi pertambangan batubara sekitar 3.500.000.000 ton.  Enam puluh empat koma lima persen (64,5 %) persebaran cadangan dan sumberdaya batubara memang berada di pulau Kalimantan. Kekayaan hasil bumi yang melimpah di bumi Kalimantan khususnya batubara sebagai sumber energi utama adalah berkah  dan tak salah pemerintah memasang langkah-langkah menuju  kedaulatan energi. Tentu dibutuhkan sinergi yang harmonis dari semua pemangku kepentingan apabila menginginkan tercipta ketahanan energi nasional yang solid mengingat masalah sumber daya alam (SDA) adalah suatu yang integral dan bukan sektoral.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Adaro MetCoal Companies (AMC) saat ini mewakili tujuh perusahaan memegang ijin Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) untuk 7 (tujuh) area konsensi di provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Kalimantan Timur betul-betul masih mengandalkan batubara sebagai senjata utama dan “nadi” bagi pertumbuhan ekonominya. Tercatat, perekonomian provinsi Kalimantan Timur pada kuartal pertama tahun 2020 tumbuh 1,27 persen. Peran strategis sektor mineral dan batubara (minerba) tak khayal menjadi  penopang perkonomian negara dan ketahanan energi nasional.  Batubara yang memang menjadi sumber energi vital bagi Indonesia dan merupakan salah satu sektor utama yang berkonstribusi pada penerimaan negara ini telah melahirkan  tendensi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil tersebut.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Bayangkan “boom komoditas” pada masa kejayaan batubara sekitar akhir tahun 2000-an, total penerimaan negara dari sektor batubara mencapai 85 persen. Oleh karena itu sangat penting penerapan pertambangan berkelanjutan (sustainable mining) dan standar pelaksanaan pertambangan (mining practice) yang lebih baik sehingga dapat memberi manfaat positif  bagi masyarakat, lingkungan atau biota sekitar dan bagi bumi itu sendiri. Bahkan pemerintah di provinsi penyumbang batubara terbesar diIndonesia yaitu Kalimantan Selatan melakukan pembatasan produksi batubara yang biasa dipasok ke Jawa- Bali dan Kalimantan Selatan sendiri agar ketersediaan cadangan sumber energi tetap terjaga.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Berpacu dengan program akselerasi ekspor sektor minerba seperti ke negara tujuan China, Jepang, Korea Selatan dan India,  Kementerian ESDM memang meminta para produsen batubara mencadangkan jumlah produksi tertentu untuk konsumsi dalam negeri (domestic market obligation). Ketersediaan cadangan batubara yang melimpah di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk pembangunan pembangkit listrik di Indonesia dengan sumber energi yang sebagian besar dari batubara, selain untuk bahan bakar pokok peleburan logam, produksi baja, tekstil, semen dan kertas.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Kita perlu mengetahui bahwa cadangan terbesar batubara di dunia terdapat di Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Rusia dan India. China dan India saat ini lebih memprioritaskan penggunaan batubara produksi domestik sedangkan konsumsi batubara dalam negeri relatif sedikit di Indonesia. Negara kita justru menjadi pemasok batu bara terbesar kedua di pasar dunia.

Sumber: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) dan Kementerian ESDM

Akhirnya, Indonesia patut bersyukur dengan kekayaan alam dan hasil buminya yang menyimpan  kekuatan dominan dalam pembangkit listrik. “Komoditas” yang kebal terhadap fluktuasi harga di pasar dunia ini telah menjadi penerang  di penjuru tanah air tercinta. Selain itu, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), batubara adalah mesin penghasil  devisa terbanyak negara yaitu mencapai sekitar U$ 21,07 miliar. Belajar dari sejarah bahwa batubara menjadi tonggak sejarah dunia modern yang terwujud melalui Revolusi Industri di Inggris pada pertengahan abad ke-18, saya optimis provinsi Kalimantan Tengah yang menyimpan batubara terbaik yaitu batubara kokas (coking coal) akan menjadi mercusuar Indonesia dan  Indonesia akan menjadi Negara Industri Tangguh  dalam jajaran elit dunia.     

Foto: Dokumen pribadi

Pertanian di Kalimantan Menyongsong Masa Depan


Era Revolusi Industri 4.0 telah datang dan menuntut inovasi serta gagasan kreatif kita di berbagai sektor agar roda kehidupan terus berputar. Roda penggerak perekonomian rakyat perlu terus dijaga. Demikian juga tulang punggung ekonomi masyarakat yang banyak bertumpu pada sektor pertanian agar selalu menjadi prioritas utama sehingga tidak menjadi masalah nasional di kemudian hari. Lebih-lebih masalah ketahanan pangan semakin krusial mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan semakin membengkak. Di sisi lain para pekerja di sektor pertanian jumlahnya semakin menurun. 

Pertanian yang tidak didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang profesional di sektor pertanian mustahil akan mampu menjawab kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur sedangkan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung. Belum lagi luas lahan pertanian semakin menyempit. Untungnya, pemerintah aktif memberi insentif sehingga ketika sektor lain mengalami kesulitan di tengah pandemi Covid-19, pertanian tetap menjadi penyokong perekonomian. Rilis data terbaru pertumbuhan ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian tumbuh tinggi di triwulan II-2020. Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian tumbuh 16,2 persen. Indikator kesejahteraan petani seperti nilai tukar petani (NTP) juga naik tajam. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik 1,44 persen dari bulan sebelumnya menjadi Rp. 4.788.

Petani Indonesia, khususnya yang masih muda sepatutnya tercambuk dan optimis mengembangkan usaha atau berwirausaha dalam bidang pertanian atau agribisnis dengan beragam inovasi. Pertanian 4.0 berada di punggung generasi masa kini karena pertanian zaman sekarang tidak bisa disamakan lagi dengan zaman dahulu. Pertanian 4.0 mesti pertanian yang tanggap alsintan (alat mesin pertanian) dan teknologi digital yaitu dengan menggunakan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet. 

Proses bisnisnya akan melibatkan information and communication technology (ICT) dan jaringan internet yang terkoneksi ke semua unit operasi dari berbagai instrumen seperti satelit, drone dan sensor maupun peralatan seperti mesin atau robot. Apabila semuanya bekerja secara sinergis maka akan terjadi peningkatan produktifitas pertanian baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan dengan biaya yang rendah. Pengaplikasian teknologi digital akan meminimalisir biaya produksi dan yang berhubungan dengan proses pemanenan dan pascapanen hingga 60 persen sehingga keuntungan yang didapat petani akan lebih besar. 

Teknologi juga mempercepat proses pertanian seperti pengolahan tanah pertanian, teknologi pembibitan, dan pemutakhiran mesin panen. Praktis, teknologi memiliki peran yang besar dalam intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian Sekarang traktor tidak perlu disetir secara langsung tetapi dapat menggunakan remote atau komputer. Pertanian itu tidak hanya sekadar mengolah lahan, menanam dan memanen tetapi juga mengolah hasil panen hingga bisa dipasarkan dengan cara modern dan inovatif yaitu dengan strategi online atau cash on delivery (COD) sehingga hasil pertanian bisa sampai meja makan. Pemasaran produk memang jauh lebih mudah berkat peran teknologi digital. 

Oleh karena itu, bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada generasi muda milenial yang melek teknologi (techno-literate) yang siap melanjutkan tongkat estafet demi kemajuan pertanian di masa depan. Bung Karno pernah berseru: “Pemuda bertani, berarti memilih untuk merdeka”. Pemuda milenial produk vokasi harus bisa masuk ke dunia usaha atau industri pertanian dan harusnya mampu menjadi qualified job creator yaitu menjadi petani mandiri dan membuka lapangan pekerjaan untuk pemuda-pemuda lainnya. Fenomena saat ini semakin banyak pemuda-pemuda Indonesia yang lebih memilih menjadi job seeker (pencari pekerjaan) sebagai pegawai kantoran atau karyawan. 

Kita percaya di kepala pemuda milenial sejatinya tersimpan banyak ide kreatif dan inovatif dalam menghasilkan produk pertanian berdaya saing dan bernilai jual tinggi. Regenerasi pemuda tampan masa kini (baca: petani), masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia. Menjadi petani berarti menjadi ujung tombak kebutuhan pangan di tanah air Indonesia yang konon lahir dari rahim agraris dan maritim. Profesi petani selayaknya ditempatkan pada posisi terhormat dan terpandang. 

Kita perlu berkaca dari negara maju seperti Jepang, Amerika, Belanda dan Australia dengan profesi petaninya yang selalu menjadi incaran para pemuda. Bahkan tak jarang mereka yang lulus dari jurusan non-pertanian sangat antusias dan berebut ingin menjadi petani. Berbanding terbalik dengan Indonesia dengan para pemudanya yang minder jika harus menjadi petani. Indonesia sebagai negara berkembang belum bisa menyamai China yang juga masih dalam kategori negara berkembang dalam hal kemakmuran petaninya. Penghasilan rata-rata petani di China sekitar 10 jutaan. 


Indonesia pun bisa seperti mereka apabila para pemuda milenial berani membangun desa dengan menjadi pelaku usaha baru. Pemerintah selalu hadir untuk menyejahterakan petani dan meningkatkan produksi. Keberpihakan pemerintah dapat terlihat dari kuatnya bantuan pemerintah seperti melalui program upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), subsidi pupuk dan benih, pembuatan embung, perbaikan irigasi, pemberian ribuan alsintan dan asuransi pertanian. Pemerintah juga memiliki inisiatif awal yaitu memperluas lahan 1000 hektar untuk dijadikan korporasi pertanian. Semua dilakukan demi menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, ketersediaan bahan baku industri, daya saing dan kesejahteraan petani. Jika generasi muda masih tetap enggan mengolah lahan-lahan pertanian maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai dari luar.


Meski tak banyak namun ibarat oase di gurun pasir masih ada petani milenial dari Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah siap menjadi ujung tombak pembangunan pertanian. Krismen namanya, petani milenial yang sukses mengembangkan budidaya tanaman jagung pakan ternak atau jagung kering pipilan di desanya. Omzetnya sekarang mencapai Rp. 25 juta sebulan. Tanah di Kalimantan memang tidak sesubur pulau Jawa yang memiliki banyak tanah entisol dan grumusol karena memiliki gunung berapi. Selain tanah inceptisol, Kalimantan terdiri dari lahan kering, rawa lebak, lahan irigasi, rawa pasang surut, dan lahan hujan yang membutuhkan sentuhan teknologi agar tidak sekadar menjadi lahan tidur.

Sedangkan tanah aluvial di Kalimantan juga berkurang tingkat kesuburannya. Penurunan kesuburan akibat penambangan batubara dapat diatasi dengan pemberian bahan organik dan introduksi cacing tanah. Banyaknya lahan di Kalimantan yang terbengkalai bahkan menjadi rawan terbakar di musim kemarau menuntut kepedulian para pemuda milenial agar mengikuti jejak Krismen yang telah memulai bisnisnya di bidang pertanian sejak remaja. Bila pemuda-pemuda milenial mau berkiprah dengan teknologi dan mekanisasi mesin serta mengkombinasikannya dengan kearifan lokal pertanian tentu akan tercapai ketahanan pangan nasional yang kuat.

Tanah Barito yang notabene berdekatan dengan calon ibukota negara (IKN) Indonesia yang baru di sebagian Kabupeten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur bisa menjadi lumbung pangan. Untuk menuju pertanian masa depan kolaborasi dengan bidang lain (transdisiplin) seperti bidang pariwisata sehingga terwujud agrowisata di tanah Barito merupakan sebuah peluang di tengah masyarakat perkotaan yang semakin modern. Masyarakat perkotaan cenderung menerapkan gaya hidup (life style) ketofastofis dan vegetarian. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan komunitas pengomposan agar senantiasa tersedia pupuk organik demi keberlangsungan pertanian organik. 


Tentu, tangan-tangan pemuda milenial yang adaptif terhadap teknologi yang siap menjadi wirausaha agribisnis adalah kuncinya. Pemuda milenial yang adaptif terhadap teknologi dapat membentuk jejaring kerjasama dengan mitra atau pemangku kepentingan di sektor pertanian dan mengoptimalisasi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dengan lebih mudah melalui teknologi digital. Akhirnya, peran petani muda masa kini yang berani berlaga di dunia pertanian sangat dibutuhkan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Ini seirama dengan detak perjuangan Bung Karno bahwa pangan adalah hidup matinya suatu bangsa. Bung Karno yang begitu memahami hal itu kemudian meletakkan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang berganti nama menjadi Institut Pertanian Bogor dan bukan Institut Perbankan Bogor, Institut Pewartaan Bogor, atau Institut Pesantren Bogor seperti yang (justru) diplesetkan oleh pemuda milenial Indonesia sendiri. Sarkastik!

Membangun Optimisme Perumahan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

(Tinjauan Analitis-Solutif Peran Pembuat Kebijakan dalam Membantu Keluarga Menengah ke Bawah Indonesia Memiliki Rumah Pertama)
Oleh: YOGYANTORO
Foto: Kementerian PUPR
       Foto: Kementerian PUPR
Indonesia menggeliat. Contoh kasus dari pembangunan infrastruktur termasuk properti residensial atau perumahan begitu masif di seluruh Nusantara. Kebutuhan rumah baru mencapai 800.000 unit per tahun, sementara itu kapasitas yang dimiliki pengembang (developer) hanya berkisar 250.000 – 400.000 unit per tahun. Berdasarkan Susenas Maret 2015, masih terdapat sekitar 11,38 juta kepala keluarga yang belum memiliki rumah. Hal ini menunjukkan adanya peluang bisnis perumahan yang terbuka lebar.
Foto: Dokumen pribadi

Foto: Dokumen pribadi

Menurut Survei Harga Properti Residensial Pasar Primer BI, saat ini hampir 75 % konsumen memanfaatkan fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sebagai sumber pembelian properti dan hanya 17,62 % yang melalui jalur tunai bertahap sedangkan sisanya dengan pembelian secara tunai. Pengembang lebih banyak mengandalkan dana internal perusahaan yang mencapai 56 % untuk pembangunan properti residensial yang mayoritas berasal dari modal yang disetor. Pinjaman bank yang dilakukan oleh pengembang berkisar 23 % dan dana yang berasal dari nasabah sekitar 5,68 % sisanya merupakan pinjaman LKNB (Lembaga Keuangan Non Bank) dan lainnya.
Namun kita tidak bisa menutup mata adanya rantai persoalan perumahan nasional yang belum menemukan titik temu. Lahan untuk perumahan nasional dengan lokasi yang baik tidak banyak tersedia. Masalah harga juga masih menjadi benang kusut yang belum terurai mengingat biaya perijinan yang melangit, bahan bangunan yang dijual dengan harga komersial serta berbeda-beda di tiap daerah ditambah urusan birokrasi yang relatif panjang. Belum lagi mayoritas pembiayaan lebih fokus pada KPR kelas menengah atas. Bagaimana dengan kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki mimpi memiliki rumah?
Foto: Dokumen pribadi

            Foto: Dokumen pribadi
Memang pada masyarakat kelas menengah ke bawah terutama yang tergabung dalam kelompok “nyaris miskin” terjadi penurunan daya beli seiring dengan turunnya penghasilan riil mereka. Yang muncul kemudian adalah bayang-bayang kesenjangan yang memperlihatkan kondisi memburuk. Laporan terbaru dari Credit Suisse menampakan 1 % orang terkaya di dunia kini menguasai lebih dari setengah kekayaan global. Sedangkan di Indonesia sebanyak 49 % dari total kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1 % warga terkaya dan 51 % sisanya diperebutkan oleh 99% penduduk.
Lembaga Oxfam juga menyebutkan bahwa harta total 4 orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Hal ini juga terhubung langsung dengan penyembunyian harta di negara surga pajak dengan lonjakan harta para miliarder.  Elias dan Turpin (1994, p.5) menulis, “ the presence of social injustice… and structural violence (in the form of) economic deprivation, social neglect, and racial or class injustices… provides not only the immediate violence of repression and oppression bur also the breeding grounds for the development of war or other direct violence such as crime”. Menyikapi masalah kesenjangan ekonomi yang berpotensi pada tindakan kriminal atau masalah keamanan atau ketidakadilan kelas dalam polemik perekonomian, para ekonom pada dekade-dekade sebelumnya cenderung menggunakan pendekatan dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi karena keadilan akan tercapai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Seiring dengan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara maka kekayaan akan mengalir pada keluarga-keluarga berpenghasilan menengah ke bawah melalui mekanisme laissez-faire yaitu mengurangi campur tangan pemerintah dan menyerahkan segala kegiatan ekonomi yang lebih bebas pada pasar. 
Ini artinya para pembuat kebijakan hanya perlu berfokus pada penguatan produktivitas, surplus perdagangan dan penyediaan lapangan pekerjaan untuk mendorong pertumbuhan. Kabar gembiranya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren yang meningkat setelah mencapai level terendah pada 2015, yang didorong oleh investasi dan ekspor, serta konsumsi yang stabil. Investasi diprediksi tetap tinggi terutama dukungan dari investasi proyek infrastuktur dan bangunan swasta. Dari segi ekspor dan impor juga tetap tumbuh. Perbaikan ekonomi global menumbuhkan ekspor manufaktur meskipun terjadi penurunan ekspor komoditas, khususnya CPO. Kuatnya permintaan domestik mendorong pertumbuhan impor, khususnya barang modal dan bahan baku. Praktis, sumber pertumbuhan global bergeser ke negara berkembang seperti Indonesia karena negara maju mengalami sedikit perlambatan.
Jika dilihat secara sektoral, industri yang tumbuh tinggi memiliki penyerapan tenaga kerja yang minim dan inilah yang berpengaruh pada daya beli masyarakat terutama kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu secara sektoral, sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang besar seperti sektor perumahan harus di-trigger untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Sektor perumahan atau properti akan membawa dampak positif yang signifikan dalam upaya membangkitkan perekonomian.
Foto: Dokumen pribadi
     Foto: Dokumen pribadi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya dan kawasan pada umumnya, menunjukkan kondisi yang stabil. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga soliditasnya karena adanya perbaikan pendapatan dan inflasi yang terkendali. Konsumsi rumah tangga yang terjaga yang ditopang oleh investasi yang tetap kuat berhasil menjadi udara segar bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Maka tidak heran apabila Indonesia kini mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi global dan mendapat anugerah berupa kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan dan kapabilitasnya dengan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang sekaligus menjadi ajang pertaruhan nama baik Indonesia. Asian Games 2018 mempertandingkan 40 cabang olahraga yang diselenggarakan di Palembang dan Jakarta. Benar-benar menjadi daya tarik baru mengingat sepanjang tahun penyelenggaraannya, baru Asian Games 2018 yang penyelenggaraannya berada di 2 kota secara bersamaan.
Krisis Asia tahun 1998 dan krisis keuangan global tahun 2009 yang terlewati dengan baik sebetulnya  telah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia telah berhasil melakukan reformasi dalam membangun kekuatan yang berkelanjutan dan daya tahan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia (inclusive growth) bukan saja stabil dan kokoh melawan badai tetapi juga merata. Menyaksikan euforia perekonomian Indonesia yang begitu reformed, resilient, dan progressive yang mendapat dukungan dari sarana infrastruktur serta fasilitas yang memadai, dinamika politik yang stabil terkait pemilihan presiden 2019 dan kondisi keamanan yang kondusif maka tidak begitu mengejutkan jika Indonesia juga berhasil terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan keuangan terbesar di dunia, IMF-World Bank Annual Meetings (AM)  2018 yang bertempat di Nusa Dua, Bali, pada 12 – 14 Oktober 2018.
Menyambut tamu yang berjumlah 15.000 orang dari berbagai belahan dunia yang terdiri dari para pejabat pembuat kebijakan dari berbagai negara, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara anggota IMF, ekonom dan akademisi, pimpinan perusahaan dan investor terkemuka, think tank, partisipan dari industri kekuangan, anggota  parlemen, perwakilan LSM, media, delegasi pertemuan dan partisipan lainnya adalah kesempatan emas untuk mengasah leadership Indonesia sebagai penyelenggara international event dalam membahas isu-isu global sekaligus menjadi ajang untuk menunjukkan persepsi positif tentang Indonesia sebagai sebuah negara yang besar.
Foto: Dokumen pribadi
Foto: Dokumen pribadi
Akhirnya, menggali lagi sejarah besar Indonesia yang telah berhasil mendatangkan dunia ke Indonesia dengan menjadi penyelenggara KAA 1955, tuan rumah Asian Games ke-4 pada tahun 1962 di Jakarta dan berkaca pada gegap gempita Indonesia yang berhasil menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan AM 2018 maka harapan Indonesia mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia tidaklah terlalu utopis. Sebagaimana keluarga-keluarga baru Indonesia agar tetap optimis bahwa di tengah badai krisis multisektor akibat pandemi Covid-19 mimpi memiliki rumah pertama akan menjadi nyata dan siap menjadi penjamu tamu yang baik. Selamat Hari Perumahan Nasional 2020. Semoga iklim properti semakin produktif dan percepatan pembangunan Program Sejuta Rumah dapat sukses memenuhi hak rakyat akan rumah layak.

   *Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh.  Peminat masalah sosial, ekonomi dan pendidikan

Akselerasi Pembangunan Core-Periphery melalui Strategi Investasi di Era Digital

Oleh: Yogyantoro
Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swadaya dalam acara Indonesia Investment Week Singapore Chapter 2017 di Gedung Kemendagri, Jakarta pada 14 Maret 2017 menuturkan bahwa investor Singapura hingga saat ini masih menjadi sumber Penanam Modal Asing (PMA) terbesar di Indonesia. Total investasi dari Singapura dari tahun 2011 hingga 2016 telah menyentuh angka US$ 35, 6 miliar. Namun, sayangnya total nilai investasi tersebut hanya tersebar ke lima provinsi di Indonesia. Terbanyak di Jakarta yaitu sebesar US$ 10,64 miliar yang dialokasikan ke 3.236 proyek. Disusul Sumatera Selatan sebesar US$ 3,85 miliar di 253 proyek dan kemudian ketiga adalah Banten sebesar US$ 3,05 miliar di 745 proyek. Diikuti oleh Jawa Barat US$ 2,09 miliar di 1.188 proyek lalu Kalimantan Tengah sebesar US$ 1,9 miliar yang dialokasikan di 412 proyek.



Tanda-tanda atau sinyal-sinyal melirik investasi di daerah di luar pulau Jawa mulai menguat. Tingkat investasinya sedang menunjukkan perkembangan. Tak dapat dipungkiri bahwa daerah-daerah di luar pulau Jawa sangat membutuhkan investasi, khususnya investasi asing guna mempercepat laju pembangunan di daerah tersebut. Investasi memang merupakan langkah awal dalam kegiatan ekonomi. Selanjutnya akan memunculkan dinamika investasi yang berpengaruh pada tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi di suatu daerah. Reorientasi dari pemerintah Jokowi yang berkomitmen untuk memfokuskan pada pengembangan infrastuktur non Jawa perlu disambut hangat dengan kebijakan-kebijakan yang mendukung agar investasi di daerah bisa semakin meningkat. Kebijakan itu juga ditangkap memiliki dimensi dalam upaya memperkuat integrasi bangsa melalui peningkatan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Presiden Joko Widodo telah menyatakan bahwa akan membangun Indonesia dari pinggiran yang selama ini tertinggal dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan sebagaimana tertuang dalam program Nawacita butir ketiga. Konsep ini mencanangkan serangkaian agenda atau sembilan agenda (Nawa Cita) yang dilingkupi oleh situasi semangat kebijakan fiskal yang memprioritaskan pembangunan infrastuktur terutama dengan tujuan mengembangkan konektivitas wilayah-wilayah pinggiran dengan wilayah-wilayah yang secara ekonomis lebih berkembang dan maju. Hal ini dalam upaya menekan perbedaan pembangunan yang menganga yaitu kemajuan antara pusat dan pinggiran (core-periphery).

Pemerintah dapat memperkecil ketimpangan ekonomi antara daerah yang maju dan yang tertinggal dengan mengarahkan investasi ke daerah yang tertinggal. BKPM terus berjibaku agar distribusi investasi tidak hanya terpusat pada daerah-daerah tertentu diwilayah perkotaan atau industri besar tetapi juga merata hingga ke pelosok-pelosok negeri. Investasi memiliki daya dongkrak yang luar biasa terdapat peningkatan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi secara berlipat ganda (multiplier), memperluas lapangan pekerjaan dan sebagai alat untuk pemerataan antar daerah. Pembangunan tidak lagi terpusat (sentralisasi) di perkotaan saja melainkan menyebar di seluruh daerah pelosok (desentralisasi).

Teori David K. Eitemen mengemukakan adanya motif-motif strategis yang mempengaruhi arus penanaman modal asing ke negara penerima modal diantaranya adalah mencari pasar, mencari efisiensi produksi dan mencari bahan baku. Namun demikian SDA saja tidak menjamin keberhasilan proses pembangunan ekonomi apabila tidak didukung oleh kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola SDA yang melimpah SDM yang berkualitas merupakan daya tarik investasi yang penting. Teknologi yang dipakai oleh para pengusaha semakin canggih dan modern sehingga menuntut ketrampilan yang lebih dari tenaga kerjanya.


Selain itu kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang ditandai oleh penguatan budaya lokal serta peningkatan etos kerja masyarakat yang jujur, ulet, kerja keras dan cerdas akan semakin membuka kran investasi makin mengucur berbanding terbalik jika ada faktor penghambat seperti sikap-sikap masyarakat yang cenderung egois, anarkis dan melanggengkan jurus KKN. Para investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia terutama di daerah selalu mengharapkan iklim investasi yang kondusif, aturan-aturan hukum penanaman modal yang memberikan perlindungan hukum (legal protection), kemudahan, keadilan hukum dan kepastian hukum. Peraturan dan Undang-undang ketenagakerjaan seperti upah minimum, kontrak kerja dan peraturan tentang PHK perlu dijamin tidak merugikan salah satu pihak.


Pemerintah dapat memberi insentif pembebasan pajak bagi investor yang bersedia berinvestasi di daerah tertinggal dan kemudahan-kemudahan lain dalam ijin inventasi guna menggenjot laju investasi di daerah tersebut agar ketimpangan ekonomi semakin berkurang. Birokrasi perijinan yang panjang akan memperbesar biaya bagi investor sehingga enggan untuk berinvestasi. Investasi di daerah tertinggal atau pelosok cenderung menempatkan layanan ijin investasi 3 jam disebabkan layanan KLIK unggulan BKPM masih tersedia pada 14 kawasan industri yang lokasinya belum menjangkau daerah pelosok. Meskipun demikian, investasi tetap menggeliat dengan adanya layanan ijin 3 jam yang didukung oleh fasilitas bea masuk serta percepatan urusan di pelabuhan melalui jalur hijau.


Pembangunan infrastruktur merupakan sebuah keniscayaan. Pembangunan prasarana dan sarana transportasi seperti jalan raya, jalan tol, rel kereta api, jembatan, bandar udara, pelabuhan laut atau tol laut, telekomunikasi yang meliputi jaringan internet maupun telepon kabel dan nirkabel serta utilitas contonya tersedianya listrik yang kuat dan air bersih yang memadai akan membawa returns on investment. Kebijakan ini lebih menekankan pada pentingnya wawasan jangka panjang.


Akhirnya, menurut hemat penulis, esensi membangun dari pinggiran adalah membangun desa tempat berdiam sebagian besar masyarakat marginal. Banyak desa sedang mengalami masalah serius. Melonjaknya alokasi anggaran dalam APBN untuk Dana Desa perlu disinergikan dengan stimulasi ganda yang dilakukan secara lebih mendasar, serentak dan holistik yaitu dengan membuka konektivitas (peningkatan ruas jalan dan membangun jembatan) dan membangkitkan kegiatan ekonomi warganya. Penguatan partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan sebagai obat paling ampuh membangun desa.

Jangan sampai desa kehilangan tenaga usia produktif yang pada gilirannya akan menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan membombardir ketahanan pangan nasional. Masalah desa bukan masalah kurangnya uang tetapi lemahnya modal sosial (social-capital). Pendekatan pembangunan desa bukan sekedar mengirimkan lebih banyak uang ke desa. Kelangkaan modal, ketergantungan masyarakat terhadap bantuan pemerintah dan minimnya sarana produksi memang mengakibatkan derajat ekonomi, pendidikan dan kesehatan yang rendah serta pengangguran yang tinggi. Namun, konsep berdikari Bung Karno atau kedaulatan desa ala Bung Hatta perlu diejawantahkan sebagai harga mati.

Sistem ekonomi dan politik desa tak hanya peduli pada pencapaian materi belaka, tetapi juga pencapaian budaya, seni, spiritual dan harmoni sosial. Desa adalah miniatur negara. Investasi publik di daerah pedesaan harus digalakkan demi menghindari tatanan masyarakat desa yang hanya bekerja tetapi tidak produktif. Industri-industri kreatif yang bersifat eksklusif dan unik dapat dikembangkan di daerah pinggiran atau pedesaan dengan cara mengonstruksikan kreativitas, kerja sama, pemikiran kritis, penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta literasi digital melalui sarana investasi.

Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh.

Bahasa Inggris Menyongsong MEA 2015


If  your plan is for a year, plant rice. If your plan is for a decade, plant trees. If your plan is for a lifetime, educate children. (Confucius).


Foto : Dokumen pribadi

Jika rencana kita untuk satu tahun, tanamlah padi. Jika rencana kita untuk sepuluh tahun kedepan, tanamlah pohon. Jika rencana kita untuk seumur hidup kita, didiklah anak kita. Kutipan diatas memberikan inspirasi kepada kita bahwa menyekolahkan anak akan menjadi investasi sepanjang masa. Tentunya juga untuk siap menghadapi globalisasi, pendidikan memegang peranan yang penting. Tidak kalah pentingnya dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai senjata untuk menjadi pemenang dalam kompetisi di hard globalization era. Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi telah mendominasi sebagian besar belahan dunia dan globalisasi dalam banyak aspek telah memotivasi orang-orang untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan menyambut MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) akhir tahun ini.

Dunia semakin sempit sehingga kita tidak bisa menghindari bahasa Inggris. Di lebih dari 100 negara orang-orang berbicara dengan bahasa Inggris dan acap kali ini satu-satunya jalan untuk berkomunikasi di negara asing. Satu setengah milyar orang asing siap untuk berbicara bahasa Inggris dan 1 milyar orang yang lain sedang mempelajarinya. Apakah itu termasuk murid atau anak Anda?

Belajar bahasa Inggris yang efektif di sekolah dibutuhkan kehadiran figur guru yang tepat, textbook yang tepat dan metode yang tepat pula. Guru bahasa Inggris yang qualified jumlahnya sangat kurang sehingga guru-guru bahasa Inggris di sekolah banyak yang memiliki skill bahasa Inggris yang terbatas.

Maka kemudian textbook menjadi satu-satunya andalan. Jika bahasa Inggris diajarkan semata-mata dari buku, kita dapat mengansumsikan bahwa hanya reading (membaca) dan writing (menulis)  yang dipelajari. Speaking (berbicara) dan listening (mendengarkan) tidak akan tersentuh sehingga murid-murid tidak akan bisa belajar untuk berkomunikasi secara lisan.  Selain itu bahasa Inggris akhirnya menjadi pelajaran yang membosankan dengan bookwork dan grammar rules daripada diajari cara-cara mengkomunikasikan ide-ide yang menarik.

Jadi, bisa dipastikan bahwa kekurangan terbesar guru bahasa Inggris saat ini adalah ketika guru tidak bicara bahasa Inggris atau gagal mengajak muridnya berlatih speaking.

Meskipun guru sering mengikuti pelatihan-pelatihan, training atau diklat yang cukup tetapi jarang menghasilkan murid yang dapat menguasai speaking dan listening dengan baik. Alasan yang paling sering disampaikan para guru yang tidak mengadakan communicative activities di kelas adalah karena tidak akan keluar di Ujian Nasional dan tidak cukup waktu mengajar untuk hal-hal yang tidak diteskan di Ujian Nasional.

Sebenarnya pemerintah telah memperkenalkan kurikulum nasional yang mencakup Teaching of Oral Communication Skills. Pemakaian metode dan approach (pendekatan) seperti communicative language learning dan kurikulum 2013 sayangnya belum di’terima’ guru dengan baik. Banyak guru yang masih ragu dan kurang mendapatkan penjelasan yang cukup.

Ketika ingin mengajar speaking kita bisa menggunakan communicative language teaching. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk bebas mengungkapkan apa yang mereka pikirkan. Sedangkan untuk mengajar  listening, guru dapat menggunakan the audio lingual method yang menuntut guru hanya menggunakan target language (bahasa Inggris) di kelas. Banyak metode-metode lain yang bisa diaktifkan di kelas seperti silent way, community language learning, natural approach, total physical response, suggestopedia dan lai-lain.

Jika guru bahasa Inggris dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik dan menerapkan metode yang tepat maka lulusan SMA dapat lebih fasih berbahasa Inggris. Bahkan pemerintah Korea Selatan telah memperkenalkan program US$ 4,24 M untuk mencapai tujuan tersebut yang menghendaki murid SD, SMP, dan SMA atau yang sederajad diajar hanya dalam bahasa Inggris. Sekitar 23.000 guru yang dapat mengajar dalam bahasa Inggris direkrut pada 2013 di Korea Selatan. (Agence France-Presse,Seoul). Selain itu kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sudah menjalin kerja sama dengan University of Cambridge dan melibatkan 13.800 siswa dan 800 guru untuk dilatih mengenai materi- materi pengajaran bahasa Inggris.

Melalui sertifikasi pemerintah telah berusaha merevitalisasi sistem pendidikan nasional dan meningkatkan kesejahteraan guru. Ini seharusnya mampu membuka paradigma mengajar yang baru dengan harapan besar menjadi obat mujarab terhadap banyaknya siswa yang kurang fasih berbahasa Inggris.

New training course yang diambil sebagian guru untuk mendapatkan sertifikasi mencakup subjek seperti bahasa, pedagogik, dan profesionalisme semoga bisa bermanfaat.Akhirnya saya sependapat dengan George Bernard Shaw ” To me the sole hope of human salvation lies in teaching”. Praktis, untuk menyelamatkan potret buram pendidikan kita terletak pada hadirnya guru-guru yang hebat di kelas, bukan pada kurikulumnya. Bagaimana menurut Anda?