Navigation Menu

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Mencetak Generasi Emas di Periode Emas (Golden Period)

Bagi kami, 1000 hari pertama ananda melihat dunia dan satu jam ananda berada dalam rahim adalah masa keemasan yang paling berharga untuk kami sebagai orang tua mengambil peran. Pada masa ini sel-sel otak mengalami perkembangan mencapai 80 %. Perkembangan fisik, mental bahkan spiritual bayi mulai terbentuk pada masa ini. Pola asuh adalah kunci pertama dan utama untuk menumbuhkan karakter sang buah hati. Oleh karena itu pemberian stimulasi atau rangsangan yang mencakup aneka sistem indra seperti pendengaran, perabaan, pembauan, penglihatan dan pengecapan harus dilakukan secara terintegrasi dan simultan. 


Kami sebagai orang tua merancang pola asuh sebagai agenda utama dengan senantiasa memberikan dukungan dan menjadi fasilitator yang siaga 24 jam. Kami percaya bahwa pada dasarnya cetak biru (blue print) bayi telah terbentuk secara alami dari orang tuanya namun pemberian alam tersebut akan sirna jika kita tidak mengambil peran. Proses pertumbuhan otak yang mengeluarkan cabang-cabang serat saraf perlu distimulasi sehingga kemampuan komunikasi seluruh sistem saraf pusat akan menjadi kuat. Sebaliknya jika kurang mendapat stimulasi akan melemahkan jalur-jalur saraf bayi sehingga bisa melemah atau mati. 


Ronald Ferguson, profesor di Universitas Harvard dan direktur Achievement Gap Initiative menekankan pentingnya orangtua yang responsif terhadap emosi bayi. Kasih sayang adalah sebentuk bukti cinta dan kebutuhan paling dasar yang sangat dinantikan oleh bayi. Stimulasi mental yang dibutuhkan diantaranya adalah selalu mendekatkan wajah kita sebagai orangtua kepada bayi mungil anak kita. Kita bisa berinteraksi secara visual dengan bayi kita melalui ekspresi wajah yang menarik, penuh senyum, sesekali mengenalkan ekspresi kaget, menangis, tertawa atau memainkan lidah kita untuk menarik perhatiannya. Mengikuti irama emosi bayi akan memberikan sensasi kedekatan dan kehangatan yang akan menciptakan iklim yang baik bagi bayi dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kepercayaan bayi terhadap lingkungannya. 

Selain itu kekuatan cinta kasih dapat disalurkan orangtua kepada bayinya dengan stimulasi taktil seperti memegang, menimang, mengangkat, memeluk, mengurut, mengguncang lembut, menepuk atau mengajaknya bicara. Mendongeng dengan wajah yang ekspresif untuk bayi kita sangat dianjurkan. Meskipun masih berusia dibawah dua tahun, dongeng untuk bayi dengan kata-kata yang tepat, nyata dan jelas akan merangsang indra pendengarannya. Rajin-rajinlah berbicara dengan bayi kita agar bisa cepat berbicara dengan kosa kata yang beragam karena otaknya menyerap perbendaharaan kata yang melimpah seperti spons. Bayi pada usia emas yaitu 1000 hari pertama adalah peniru terhandal. 

Otak bayi seperti tape recorder yang akan menyimpan lirik lagu-lagu anak yang biasa kita nyanyikan asalkan dengan suara dan nada yang jelas. Pernahkah Anda mencoba make silly noises atau mengajaknya bermain sembunyi-sembunyian, cilukba atau play peek – a boo? Itu semua adalah contoh pendekatan yang disukai bayi dan berdaya untuk tumbuh kembang yang seimbang antara fisik dan psikososial bayi. Anda juga dapat menggunakan benda-benda yang menimbulkan suara gemerincing, alunan musik, atau bel mainan dan bersiaplah memberikan respon emosional yang positif terhadap setiap refleks bayi. Marah, sebal, bosan adalah respon emosional yang negatif yang akan menimbulkan rasa takut dan menghilangkan kepercayaan diri bayi. 

Menjalin hubungan yang erat, mesra dan hangat adalah syarat mutlak yang perlu dikombinasikan dengan pola asuh provision structure yaitu konsistensi dan pembiasaan yang meliputi ketepatan waktu makan, tidur dan mandi. Jangan sampai si kecil melihat adanya inkonsistensi seperti adanya nilai dan norma yang bertentangan antara yang diterapkan oleh kakek, nenek, ayah, ibu atau pengasuh (pengganti ibu). Si kecil tentu akan bingung mengikuti aturan yang mana, bukan? Si kecil bisa kehilangan arah atau pedoman sehingga terampas rasa aman (emotional security) yang membawa dampak pada fisik, sosial, dan mental atau mengalami sindrom deprivasi maternal. 

Masing-masing bayi itu terlahir cerdas, unik dan memiliki karakter yang khas. Kita sebagai orang tua bertanggung jawab mengembangkan kecerdasan dan bakat atau keunikan buah hati kita sedini mungkin terlebih-lebih pada 1000 hari pertama ananda yang merupakan golden period. Ayah dan Bunda pemilik buah hati yang unik dapat mengikuti jejak kami menjadi supporter dan fasilitator untuk menemukan dan mengembangkan kecerdasan si kecil. Kecerdasan si kecil bisa sangat berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ada yang memiliki kecerdasan linguistik, matematika, visual-spasial, musical, kinestetik dan lain sebagainya. Karakter bayi pun sangat beragam seperti ada yang peka, manis, kurang “manis”, ekspresif, pendiam atau cool. Namun sebetulnya mereka semua luar biasa dan cerdas sebagai mana yang diungkapkan oleh Howard Gardner, psikolog dari Universitas Harvard bahwa semua anak adalah anak cerdas. Kita sebagai orang tua tidak perlu membanding-bandingkan. 

Akhirnya tulisan ini penulis tutup dengan pepatah: “If your plan is for one year plant rice. If your plan is for ten years plant trees. If your plan is for one hundred years educate children” yang maknanya adalah, jika rencana hidup kita untuk satu tahun maka tanamlah padi. Jika rencana hidup kita untuk sepuluh tahun maka tanamlah pohon. Jika rencana hidup kita untuk sepanjang masa maka asuhlah anak kita. Semoga bermanfaat!
#1000HariPertamaAnanda

***

Stop Keluarga Broken Home untuk Pendidikan Era Kekinian



Oleh: Yogyantoro
       Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh, alumni Universitas Negeri Malang dan sedang menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di Universitas Islam Malang


Foto : Telegraph.co.uk
            
Istilah keluarga dan pendidikan ibarat dua sisi mata uang yang tidak mungkin bisa dipisahkan. Dimana ada keluarga maka disitu pasti ada pendidikan. Oleh karena itu muncullah istilah pendidikan keluarga. Akan tetapi menilik kondisi banyak keluarga yang ada di Indonesia saat ini sungguh memprihatinkan. Temuan dari Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) mendapatkan kasus perceraian di Indonesia meningkat sebanyak 59-80 persen pada tahun 2010-2015. Cukup tragis jika kita membaca data yang dikeluarkan oleh Kemenag bahwa rata-rata angka perceraian di Indonesia mencapai 40 kasus setiap jamnya. Selama kurun waktu dua tahun saja yaitu dari 2012 sampai 2013, jumlah kasus perceraian di Indonesia mencapai angka 350.000 kasus. Belum lagi jika kita berbicara soal Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), angka menunjukkan bahwa pada tahun 2013 KDRT mencapai 11.719 kasus. Angka yang sangat mencengangkan.



Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, siapkah keluarga-keluarga di Indonesia menyemai benih-benih calon pemimpin Indonesia di masa depan? Orang tua dalam hal ini ayah atau ibu adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Dalam keluarga yang broken home tentu sering ditemukan seorang anak yang kehilangan panutan dan keteladanan. Ketenangan, kenyamanan dan keteduhan yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak akan menjadi suatu hal yang langka. Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan kekurangharmonisan dalam keluarga mengakibatkan kondisi psikis seorang anak terganggu. 



Keluarga merupakan wadah pertama dimana sifat-sifat kepribadian anak tumbuh dan terbentuk. Orang tua dan keluarga membawa implikasi langsung yang kuat terhadap perkembangan kompetensi sosial dan kemampuan belajar anak. Hasil dari PISA 2012 (Programme for International Student Assessment) yaitu program penilaian pelajar internasional menunjukkan bahwa siswa yang dibesarkan oleh single parent mendapatkan nilai rata-rata 4,5 dibawah siswa yang berasal dari keluarga yang orang tuanya lengkap. Sementara itu hasil terbaru evaluasi PISA 2015 menempatkan perfoma siswa-siswi dari Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini menyiratkan kekhawatiran terhadap kemampuan daya saing kita pada masa yang akan datang.

Untuk meningkatkan perfoma siswa-siswi Indonesia bukan hanya tanggung jawab para pendidik, guru, manajemen sekolah atau pemerintah saja, akan tetapi juga merupakan tantangan bagi orang tua dalam keluarga sebagai pondasinya. Bagaimana pendidikan kita bisa maju sedangkan kondisi pondasinya saja rapuh. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang tertua dan kawah candradimuka pertama bagi anak dimana sifat-sifat kepribadian anak terbentuk. Dari keluargalah dimulai suatu proses pendidikan. Sebagai orang tua kita harus memiliki kualitas yang memadai dan membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang baik dalam membesarkan anak-anak kita. 


Peran penting dari keluarga adalah menanamkan self-confidence (kepercayaan diri), menghilangkan perasaan cemas, memberikan semangat dan motivasi atau dorongan positif terhadap anak. Pengaruh-pengaruh positif melalui keteladanan dan internalisasi nilai-nilai yang baik agar anak dapat termotivasi untuk memiliki keberanian dan kemampuan menyelesaikamn masalah, mengambil resiko, bertanggungjawab dan memupuk semangat untuk berprestasi dan mempertahankan cita-citanya. 


Peran keluarga terutama untuk anak-anak usia dini sungguh sangat berharga. Sareh Siswo Setyo Wibowo, mahasiswa Pascasarjana IAIN Purwokerto dalam opininya yang berjudul Orang Tua Pendidik Utama Anak https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4522 menyatakan bahwa sesungguhnya tugas pendidikan anak ada di pundak orang tua. Orang tua dapat melibatkan diri dalam dunia anak dengan bermain bersama, memberikan dukungan dan pujian baik secara langsung atau melalui bahasa tubuh kita, berbagi pengalaman bersama dengan meluangkan waktu mendengarkan cerita anak kita dan aktif menanyakan kejadian-kejadian yang dialami anak pada hari itu. Orang tua juga harus siap menjadi pendamping yang baik bagi anak misalnya dalam hal membantu mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR), mengatasi masalah-masalah akademis dan pada saat anak-anak menggunakan internet atau menonton tayangan televisi. 


Saat ini televisi telah menjadi jujugan favorit anak-anak kita. Televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Anak-anak bisa menghabiskan waktu sampai 35 jam per minggunya hanya untuk memonton televisi. Tayangannya pun dinilai semakin tidak mendidik. Banyak sekali tayangan sinetron yang mengandung muatan kekerasan, gaya hidup kebarat-baratan, hedonisme dan menampilkan keburukan akhlak yang bisa membangun naluri kekerasan yang terpendam pada setiap jiwa manusia. Tayangan televisi yang mendidik masih sangat sedikit. Ironisnya, yang terkontaminasi tayangan tidak mendidik ditayangkan pada jam tayang prime time yang kurang tepat bagi anak, yaitu antara pukul 15.00 sampai 21.00. 


Tanpa adanya pendampingan (direction control and guidance) dari orang tua, tayangan yang tidak mendidik akan meracuni otak anak-anak. Sudah menjadi kecenderungan anak-anak bahwa mereka selalu ingin tahu dan ingin meniru perilaku orang dewasa dan ingin diterima di dalam masyarakat. Ini persoalannya menjadi lain jika anak-anak kemudian meniru adegan-adegan yang sangat tidak sesuai dengan budaya ketimuran dan bertentangan dengan norma-norma pendidikan budi pekerti. Tayangan televisi mampu mendorong peniruan perilaku sosial bahkan pada tahap akhir akan menciptakan hiperealitas.


Keluarga memainkan peranan yang penting disini untuk berani mengajak anak-anak untuk tidak menonton televisi mulai menjelang magrib sampai usai isyak. Melindungi dan memberi arahan dari serangan tayangan yang destruktif adalah bagian dari pendidikan keluarga. Kesadaran orang tua sangat diperlukan untuk mendampingi dan mengawasi anak-anak ketika menonton televisi agar anak-anak dapat menjadi generasi intelek yang melek media. Orang tua dalam keluarga harus mampu menilai mutu suatu tayangan dengan akurat. Anak-anak perlu diarahkan untuk mencari tayangan yang bersifat edukatif yang mampu menambah wawasan dan pengetahuan. Adalah tugas orang tua untuk lebih mengembangkan potensi mereka melalui kegiatan-kegiatan yang lebih positif seperti membaca koran, majalah atau buku-buku berkualitas serta membekali dengan ketrampilan. Jadi, peranan keluarga dalam pendidikan anak adalah dapat menjadi sahabat, pemandu sorak (penyemangat) maupun guru bagi anak-anak di rumah


Sebuah jajak pendapat yang diselenggarakan oleh Kompas pada 22 -24 April 2015 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menyadari pentingnya peran orang tua dalam pendidikan anak. Pengumpulan pendapat ini dilakukan terhadap 326 responden yang di dalam keluarganya terdapat anak usia sekolah. Tidak kurang dari 85 persen manjawab bahwa orang tua dan keluarga memiliki peran paling penting dalam proses pendidikan anak. Hanya 15 persen responden yang menganggap bahwa peran ini ada ditangan guru dan lingkungan sekolah. Sementara itu tidak kurang dari 60 persen responden yang mengaku mengalokasikan anggaran khusus untuk meningkatkan kemampuan anak, seperti les tambahan untuk mata pelajaran sekolah, agama maupun hobi.


Mayoritas orang tua murid ( 74 persen) yang terjaring dalam jajak pendapat ini mengaku tidak mengetahui pola pelajaran atau kurikulum yang diterapkan di sekolah. Hal ini mnggambarkan interaksi aktif antara orang tua dan sekolah masih sangat kurang. Hampir separuh responden ( 45 persen) mengaku berkomunikasi dengan gurunya hanya satu atau dua kali dalam setahun, yaitu pada akhir semester atau pada awal tahun ajaran baru.


Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan baru terkait peran keluarga dalam pendidikan anak. Selain upaya memperbaiki kurikulum pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 11 tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluaraga. Direktorat baru ini diharapkan mampu mendorong proses peningkatan prestasi belajar siswa, pendidikan karakter dan pendidikan kecakapan hidup. Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga memuliki program penanganan kenakalan remaja, perilaku perundungan (bullying), dan perilaku-perilaku yang destruktif lainnya. Program-program tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan peran aktif orang tua kandung dari siswa tetapi juga orang dewasa atau wali yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak.


Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan kita pernah menyatakan bahwa keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat adalah tri sentra pendidikan. Oleh karena itu, kemitraan yang baik diantara ketiganya yang dilandasi semangat gotong-royong dapat mendukung terciptanya ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter dan budaya prestasi. Seberapa sering orang tua atau wali aktif berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk mengetahui perkembangan anak didik adalah satu keniscayaan. Angka keberhasilan akan semakin tinggi jika terjalin kemitraan antara orang tua dengan sekolah, antara orang tua dengan organisasi profesi atau tenaga kependidikan, dan antara orang tua dengan dewan pendidikan, asalkan orang tua tetap bersikap sesuai dengan porsinya dan tetap memantau setiap perkembangan pendidikan anak serta tidak melepaskan tanggungjawabnya. Jangan sampai peran orang tua atau wali yang diwakili oleh komite sekolah hanya sebagai stempel untuk pengajuan atau persetujuan anggaran dana BOS ( Bantuan Operasional Sekolah) saja.


Akhirnya, penulis sependapat dengan Benyamin White tentang peran keluarga dalam pembentukan pola berpikir seseorang. Dari riset tersebut dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara proses sosialisasi dan pendidikan dalam keluarga dengan pola berpikir dan moral seseorang (moral thought). Menjaga keutuhan rumah tangga berarti memberi ruang yang baik untuk pendidikan anak dalam keluarga. Jika kita abai terhadap eksistensi keluarga sebagai penyemai pendidikan yang pertama, kegagalan di dunia pendidikan akan meledak dalam bom waktu. #sahabatkeluarga


***

Belajar Efektif dalam Budaya Sekolah



Oleh : Yogyantoro
Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh dan alumnus Universitas Negeri Malang

          Dunia pendidikan adalah dunia yang menantang dan mulia. Menantang karena pendidikan adalah penentu masa depan anak bangsa. Selain itu, pendidikan disebut mulia karena didalamnya terdapat upaya memanusiakan manusia. Pendidikan yang disandingkan dengan kebudayaan dalam nomenklaturnya ibarat seorang ibu yang sedang hamil. Ibu berharap sang bayi lahir sempurna, tanpa menyandang kecacatan. Namun, bila selama masa kehamilan seorang ibu mengalami kekurangan dalam asupan gizi, sentuhan kasih sayang, atau malah mengalami kekerasan dan pelecehan, maka bayi yang akan lahir kemungkinan besar akan memiliki cacat fisik bahkan mental.
            Pendidikan sepatutnya berada di garda terdepan dalam melahirkan generasi yang memiliki kecerdasan teknis dan kecerdasan sosial. Pendidikan jangan melahirkan generasi yang amoral, cacat sosial (socio-idot) yakni generasi yang tercerabut dari nilai kesantunan dan kesopanan serta tidak memiliki pati, simpati dan empati. Atau bahkan, pendidikan bisa jadi melahirkan generasi yang tidak memiliki kemampuan teknis (technical-idiot), serta generasi yang kehilangan daya kreativitas dan inovasi sehingga kehadirannya hanya akan menambah beban dan persoalan bangsa Indonesia.
            Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P telah menyatakan bahwa sekolah 8 (delapan) jam sehari dalam rangka Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada tingkat SD (Sekolah Dasar ) diharapkan porsi terbesar yaitu 70 % adalah pendidikan karakter dan 30% adalah ilmu pengetahuan. Ini dilakukan untuk memperkokoh PPK, sekaligus mensukseskan Nawa Cita Pemerintahan Jokowi tentang revolusi mental. Oleh karena itu, sangat jelas bahwa pendidikan kita khususnya di bangku SD memerlukan guru-guru yang memiliki kecerdasan relevansi yang luar biasa dalam mengajar. Guru harus mampu membangun jembatan (bridging element) antara tuntutan pengajaran yang berorentasi pada aspek tahu dan laku semata (knowing and doing) dengan sebanyak mungkin menyiram mereka dengan rasa tanggung jawab yang konstektual agar mental anak tumbuh dan berkembang menjadi anak yang berjiwa pemimpin dan berkarakter kuat.
            Prinsip yang menjadi kunci pertama yang harus dimiliki oleh guru SD khususnya,  adalah kemampuan membangun budaya sekolah yang baik dengan menerapkan teknik pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama yang mudah untuk dievaluasi bersama-sama. Proses belajar dan mengajar dengan menggunakan teknik pembelajaran yang mampu mengeksplorasi potensi intelektualitas dan  interaksi sosial yang didasarkan atas nilai kasih sayang, saling menghormati, saling menghargai dan bukan justru kekerasan dan anarki yang menjadi budaya dan tradisi. Sekolah dasar sebagai tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran taraf dasar selama ini masih dipercaya sebagai pengembang nilai superioritas seseorang secara kapasitas intelektual, dimana ribuan teks dan buku diajarkan. Tidak mengherankan jika sampai saat ini masih banyak orang meletakkan harapan terhadap eksistensi sekolah dasar. Meskipun begitu, sekolah dasar khususnya kerap dikritik sebagai tempat atau karantina yang membelenggu kebebasan siswa dalam berekspresi (deschooling society) dan mengenal makna budaya sekolah.  Jika kebudayaan dikenalkan kepada siswa sejak di bangku sekolah dasar dalam sebuah rangkaian yang berkelindan, maka para siswa akan memahami dan memaknai budaya dalam spektrum yang luas, mozaik yang sangat indah, penuh warna dan nuansa.
            Budaya sekolah (school culture) adalah kata kunci yang acapkali tidak mendapatkan perhatian serius dari pengelola pendidikan kita. Budaya sekolah perlu dibangun berdasarkan kekuatan karakteristik budaya lokal masyarakat dimana sekolah itu berada. Hal ini akan membantu memperkaya local wisdom atau khazanah model penyelenggaraan pendidikan yang bertumpu pada keunggulan muatan-muatan lokal. Budaya sekolah harus digalakkan karena sangat besar pengaruhnya untuk mencetak para pemimpin bangsa sekaligus menjadi kawah candradimuka lahirnya pemimpin-pemimpin yang tangguh dan berkarakter. Budaya sekolah sangat baik karena memiliki standar isi dan standar kompetensi yang jelas dalam kurikulum. Budaya sekolah akan membangunkan kembali guru-guru yang telah kehilangan ruh dan nilai-nilai kejujuran dan kedisiplinan dalam praktiknya di sekolah. Bukankah musuh utama pendidikan adalah ketidakjujuran dan ketidakdisiplinan? Oleh karena itu, budaya sekolah harus ditegakkan terlebih dahulu diatas kemampuan akademis siswa. 
            Budaya sekolah yang baik juga tercermin melalui hidden curriculum (keteladanan) dari guru-gurunya. Di mulai sejak  dini siswa-siswa di bangku SD diwajibkan untuk mengucapkan “terima kasih” kepada guru setiap selesai pelajaran. Membiasakan menggunakan kata”tolong” jika ingin meminta bantuan kepada guru atau teman. Mengucapkan “maaf” jika melakukan kesalahan kepada siapapun dan mengajarkan kata “selamat” sebagai bentuk rasa hormat (respect) kepada siapa saja.

Teknik Pembelajaran yang Efektif
            Kesadaran tentang pentingnya menerapkan teknik pembelajaran di bangku SD yang saling terjalin dan berhubungan erat dengan kondisi aktual saat ini menjadi sangat relevan dan itulah makna sebenarnya dari akuntabilitas pembelajaran. Dalam prinsip integrasi kurikulum, akuntabilitas dan relevansi memiliki keterkaitan satu sama lain. Keduanya memerlukan keterpautan instructional strategies sekaligus model assessment yang selaras. Siswa-siswa saat ini banyak mengalami degradasi moral  karena semakin jarang bersinggungan dengan kondisi di lingkungan sekitar atau local wisdom.
            Seringkali atas nama akuntabiltas, baik guru maupun otoritas pendidikan kita sangat  gencar dalam mengukur daan menilai kemampuan kognitif siswa melalui Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Nasional (UN). Sementara itu prinsip relevansi tak pernah diuji melalui sebuah proses yang menumbuhkann rasa empati, kepedulian dan toleransi siswa terhadap keberagaman atau kenyataan yang berlangsung disekitar mereka. Secara sistemik, kurikulum pendidikan kita mulai berubah dengan upaya penumbuhan perilaku anak yang lebih berkarakter, cinta damai dan pro-sosial. Teknik pembelajaran yang menunggang pada proses pembelajaran harus dilaksanakan seefektif mungkin dibangku sekolah dasar dengan menghindari pola-pola yang rigid dan miskin kreativitas. Sehingga, siswa tidak lemah terhadap gempuran informasi di era digital seperti saat ini dan kebal terhadap pengaruh budaya asing yang semakin kompleks.
            Beberapa teknik pembelajaran untuk melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan cara kegiatan menulis bebas, permainan indoor atau outdoor, siklus belajar, curah gagasan, simulasi, kelompok kerja kooperatif, studi kasus, debat, diskusi berpasangan, laporan satu menit (post-test). Post-test memberikan kesempatan kepada siswa untuk mensintesiskan pengetahuannya dan menanyakan permasalahan yang belum dipahami. Teknik pembelajaran juga dapat dilakukan juga dengan  mini-lektur ( penyampaian materi harus singkat, tidak lebih dari 15 menit), jedah klarifikasi yang memungkinkan seorang guru berkeliling ruang kelas, sementara siswa mereview catatannya, hal ni memungkinkan siswa pemalu yang tidak pernah bertanya secara formal akan memanfaatkan jedah klarifikasi ini untuk bertanya ketika guru menghampirinya.
            Sebagian besar strategi pembelajaran aktif melibatkan kolaborasi dalam kelompok yang membentuk lingkungan belajar yang aman bagi pertumbuhan dan eksplorasi gagasan siswa. Berkenaan dengan kemampuan murid dalam berpikir dan menulis, teknik pembelajaran yang menekankan pada keaktifan siswa (student-centered) jauh mengungguli sistem pembelajaran tradisional yakni kuliah satu arah dari guru ( teacher-centered) karena kemampuan berpikir siswa dapat secara terus menerus diaktivasi dan kemampuan berpikir kritisnya dapat berkembang lebih kuat. McKeachie (1984) menandaskan bahwa 10 menit pertama, perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Ini adalah rahasia terbesar yang dapat mengungkapkan kenyataan mengapa siswa tidak dapat belajar optimal jika guru menyajikan menu pelajaran hanya dengan metode ceramah ( teacher-centered).

              Gambar, Dongeng, dan Bahasa
            Dalam based learning theory disebutkan bahwa otak kita ketika merespon gagasan, ide atau konsep selalu dalam bentuk gambar. Maka penting bagi guru untuk menggunakan media belajar dalam bentuk grafis, film, gambar dan metafora agar otak siswa menjadi terlatih dalam memahami, mengingat, dan sekaligus melakukan analisis terhadap suatu masalah. Proses belajar yang menggunakan media belajar yang tepat dan berkelanjutan akan dapat meningkatkan apa yang disebut oleh Howard Gardner sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligences). Jika kita amati buku-buku pelajaran di sekolah memang kurang menarik. Bahkan isi buku untuk SD yang seharusnya berisi banyak gambar dan alur penyampaian yang ringan dan fun, diisi dengan ragam teori dan struktur kalimat yang se-level mahasiswa. Bahkan rata-rata anak SD di Indonesia harus menggendong tas yang berat karena beban buku yang harus dibawa ke sekolah setiap  hari.
            D. Zawawi Imran (2010) menguraikan dengan sangat menarik pendapat Lewis Caroll tentang dongeng sebagai “tanda kasih”. Berkisah dan mendongeng bagi guru SD khususnya sama dengan memberi hadiah tanda kepedulian dan keterbukaan. Dongeng mampu membuka hal-hal yang terselubung dalam benak siswa untuk lebih demokratis dan toleran. Dongeng atau cerita yang baik akan membangkitkan motivasi siswa untuk memiliki semangat berprestasi, kemauan untuk  tidak mudah menyerah dan kemauan untuk berkreasi. David McClelland dalam The Need for Achievement, menyimpulkan bahwa dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada awal abad ke-16 mengandung semacam virus yang menyebabkan pendengarnya dijangkiti penyakit ingin berprestasi. Hal ini menyebabkan mengapa ekonomi Inggris tumbuh dengan sangat mengesankan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.
Tugas guru adalah mengantarkan gagasan atau ide ke dalam benak siswa. Dengan menggunakan format seperti ini guru diyakinkan untuk dapat memasukkan dongeng ke dalam semua bentuk mata ajar dari  mulai kesenian, sains, matematika, bahasa dan ilmu sosial lainnya. Selain itu, hampir dapat dipastikan bahwa semua mata pelajaran dan pokok bahasan yang ada dan diajarkan dapat disisipi nilai-nilai Pancasila karena hampir semua mata pelajaran di sekolah memiliki karakteristik hybrid. Guru dapat mengintegrasikan proses pembelajaran agama dan pendidikan kewarganegaraan kedalam satu paket dan rangkaian yang dapat menimbulkan perasaan kebangsaan yang semakin matang. Pelajaran agama sendiri seharusnya diajarkan sebagai praktik dan bukan semata-mata hafalan materi. Pelajaran agama adalah proses menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik, toleran ditengah fakta keberagaman dan pro-sosial.
Menurut beberapa Pusat Penelitian Bahasa dan Kebudayaan di beberapa universitas, bahasa sebagai alat komunikasi dan juga bahasa pengantar di sekolah membawa dampak yang serius terhadap keberhasilan dan prestasi siswa ke depan. Kita akan mahfum apa yang terjadi dengan pelajaran berbahasa di SD. Hasil ujian bahasa Indonesia siswa di pedesaan dan perkotaan sangat mencolok perbedaannya. Para guru pengajar bahasa Indonesia di sekolah-sekolah perdesaan tetap menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar proses belajar- mengajar. Sudah saatnya guru bahasa Indonesia melakukan proses  transisi berbahasa menuju bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dengan demikian diharapkan kemampuan artikulatif siswa dalam berbahasa bisa meningkat.
Sebelum menentukan teknik pembelajaran yang akan digunakan, seorang guru harus menentukan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan siswa (objectives dan lesson design), memperbaiki sistem pengelolaan pembelajaran yang berkelanjutan dan efisien, serta membuat rangkaian sistem monitoring dan evaluasi pembelajaran yang efektif dan komprehensif. Evaluasi dan assessment merupakan bagian integral yang tidak bisa dipisahkan dari proses pembelajaran. Proses pendidikan  yang benar seharusnya melihat bakat dan kecedasan siswa dari aspek yang tidak tunggal. Perlu adanya kombinasi antara proses pembelajaran dan proses penilaian.
            Pemanfaatan penilaian bukan sekadar mengetahui pencapaian hasil belajar, justru yang lebih penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam proses belajar. Penilaian dapat dilaksanakan  melalui tiga pendekatan yaitu: assessment of learning (penilaian akhir pembelajaran), assessment for learning (penilaian untuk pembelajaran), dan assessment as learning (penilaian sebagai pembelajaran). Selama  ini assessment of learning  paling dominan dilakukan oleh guru dibandingkan assessment for learning dan assessment as learning. Penilaian pencapaian hasil belajar seharusnya lebih mengutamakan assessment as learning dan assessment for learning dibandingkan dengan assessment of learning. Mutu yang baik adalah konsekuensi logis dari proses yang baik. Sehingga mutu yang baik dicapai dengan menjamin prosesnya, bukan dengan mengendalikan hasilnya. Mekanisme pengembangan mutu harus mengacu pada konsep jaminan mutu (quality assurance), bukan kendali mutu (quality control). Artinya guru harus menekankan teknik pembelajaran yang menekankan segi proses dan bukan segi hasil atau pencapaian belaka.
            Akhirnya, mengutip apa yang dikatakan Plutarch, seorang pengikut Socrates. “The mind is not a vessel to be filled out but a fire to be ignited”.  Pikiran manusia bukanlah bejana yang harus diisi  penuh tetapi api yang harus dikobarkan. Ruang kelas yang demokratis adalah tempat terbaik untuk mengobarkan dan menyemai virtue (kebajikan), kepemimpinan dan ilmu pengetahuan. Ruang kelas yang demokratis biasanya dicirikan oleh adanya kesadaan guru akan keunikan masing-masing siswanya. Siswa juga dengan leluasa mengedepankan prinsip untuk selalu bertanya kepada setiap orang sehingga membuka banyak peluang bagi seseorang untuk menjadi seorang otodidak (street smart) atau biasa disebut dengan teknik belajar abad 21 versi Ohmae. Teknik belajar seperti ini biasanya mengandalkan kemauan, keuletan dan kegigihan seseorang untuk belajar dan membangun basis hubungan yang luas dengan siapa saja (network). Teknik belajar ini memungkinkan seseorang menjadi seorang pemimpin yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi dan berkarakter.
                                                                                                               

           

***

UKG dan Finlandia

Oleh : YOGYANTORO
                                    


          Uji Kompetensi Guru (UKG) telah digelar oleh Dirjen GTK ( Guru dan Tenaga Kependidikan) Kemdikbud dan diikuti sekitar 2,9 juta guru yang telah memiliki Nomor Unik  Tenaga Kependidikan (NUTK). Bagi guru yang mendapat nilai sempurna yaitu skor 100 akan mendapatkan kompensasi perjalanan ke luar negeri. Perjalanan ke luar negeri ini dalam rangka studi tour ( study banding) ke sekolah-sekolah negara maju. Negara yang menjadi tujuan peserta salah satunya adalah Finlandia.

Ada apa dengan Finlandia?
            Finlandia adalah negara republik parlementer dengan pemerintah pusatnya di ibukota Helsinski. Sama seperti Indonesia, awalnya Finlandia termasuk negara yang menggantungkan diri pada sektor pertanian atau negara agraris. Finlandia juga memiliki ribuan pulau. Namun, Finlandia termasyur di mata internasional lewat organisasi Nation Master dalam pencapaian teknologi pada tahun 2001 bertengger di ranking ke-1 dari 68 negara. OECD ( Organization for Economic Cooperation and Development) dan PISA     ( Program Penilaian Siswa Internasional) pada tahun 2000 nangkring di peringkat ke-1 dari 43 negara dalam kemampuan membaca, urutan ke-2 dalam matematika dari 41 negara . Sementara itu tahun 2003 berada di urutan  ke-1 dalam sains bersama dengan Jepang dan urutan ke-2 dalam pemecahan masalah. Hasil PISA tahun 2012 menunjukkan Finlandia menduduki peringkat ke-3 setelah Korea dan Jepang untuk pelajaran reading comprehension ( pemahaman bacaan) dan MIPA.
Sistem pendidikan di Finlandia merupakan salah satu sistem pendidikan tersohor di dunia yang patut ditiru. Hal ini terbukti dengan nilai yang selalu dicetak siswa Finlandia dalam PISA untuk mata pelajaran membaca, matematika dan sains. Seperti halnya Indonesia, di Finlandia SD (Sekolah Dasar) ditempuh selama 6 tahun dan SMP  (Sekolah Menengah Pertama) selama 3 tahun. Setelah SMP, lulusannya bisa langsung bekerja atau mendaftar di sekolah dagang atau SMA ( Sekolah Menengah Atas). Sekolah dagang adalah model SMK di Indonesia (Vocational School). Sedangkan SMA disiapkan khusus untuk pendidikan tinggi. Hampir 38 % penduduk Finlandia memiliki gelar setingkat sarjana, salah satu yang persentasenya tertinggi di dunia dan secara konsisten Finlandia menduduki peringkat prestigious PISA.
Kunci kesuksesan negara Finlandia salah satunya terletak pada kualitas gurunya. Di Finlandia, profesi pengajar, guru atau dosen adalah profesi yang paling bergengsi serta dipercaya oleh masyarakat dan pihak yang berwenang. Semua guru dituntut untuk mendapatkan gelar master atau berpendidikan S2.  Guru disana merupakan para guru yang mendapatkan pelatihan terbaik karena dalam proses menjadi guru harus melalui tahapan seleksi yang super ketat bahkan lebih ketat dari fakultas kedokteran. Finlandia percaya bahwa kemampuan pedagogi tidak bisa didapat melalui proses belajar. Kemampuan pedagogi adalah bakat alam yang tidak semua orang memiliki.

Less is more
            Orang –orang Finlandia telah membiasakan diri untuk hidup secara simpel dan sederhana. Rumah-rumah mereka tidak lebih besar daripada yang mereka butuhkan tetapi nyaman untuk ditempati. Mereka tidak konsumtif. Perempuan-perempuan disana tidak hobi belanja atau memakai make up atau perhiasan berlebih. Kaum pria banyak yang tidak memiliki mobil atau bahkan kendaraan sama sekali. Mereka menanamkan prinsip, daripada membeli segudang pakaian yang harganya murah tetapi tidak awet lebih baik membeli satu dua tiga pakaian secukupnya meskipun sedikit lebih mahal tetapi bisa bertahan bertahun-tahun.
            Less is more benar-benar menjadi mantra nasional yang berurat-berakar dalam mind-set mereka dan bahkan menjadi prinsip filosofi pendidikan. Menurut OECD rata-rata guru di Finlandia hanya mengajar 600 jam setahun atau sekitar 3 atau 4 jam pelajaran setiap hari dengan durasi waktu 75 menit untuk 1 jam pelajaran. Murid-murid memiliki lebih sedikit waktu di sekolah dan lebih banyak waktu untuk istirahat. Hal ini bertujuan untuk memberikan ruang yang luas untuk para guru dan murid mempersiapkan diri dalam KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar) yang lebih berkualitas. Semua SD di negara itu memberikan PR kepada siswa seminim mungkin agar siswa memiliki waktu untuk mengembangkan hobi diluar jam sekolah.
            Bertolak belakang dengan apa yang terjadi di sekolah di  Indonesia yang cenderung lebih banyak kelas, jam pelajaran yang panjang , PR yang menggunung, siswa dibebani seabrek tugas dan lebih banyak les tambahan dimana-mana serta harus menghadapi berbagai macam tes formatif, tes sumatif, ulangan dan banyaknya jenis ujian.   Ini akan berdampak pada psikis anak yang penuh tekanan, stres dan lebih parahnya adalah anak akan frustrasi. Secara alami kapasitas otak anak tidak mampu untuk menampung beban yang berlebih. Di Finlandia, pelajaran matematika hanya diajarkan sekali dalam seminggu. Lantas bagaimana mereka nanti menghadapi ujian? Finlandia tidak memiliki banyak ujian seperti sekolah-sekolah yang ada pada negara lain termasuk Indonesia. Lebih sedikit ujian ternyata berbanding terbalik dengan lebih banyak belajar.
            Murid SD di Finlandia seringkali hanya memiliki 1 guru yang sama mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Sehingga guru tersebut akan mampu untuk track the kids progress ( merekam kemajuan belajar siswa) dengan akurat dan signifikan. Guru akan lebih memahami karakter siswa dan mengetahui kebutuhan mereka  serta gaya belajar masing-masing individu. Lebih sedikit guru dipercaya mampu menangani siswa lebih konsisten dan lebih peduli. Bagaimana jika anak kita mendapatkan guru yang tidak berkualitas ? Hampir impossible hal itu terjadi mengingat Finlandia bekerja keras dan all out untuk menjamin bahwa tidak ada guru yang tidak berkualitas. Untuk bisa diterima sebagai mahasiswa PGSD ( Pendidikan Guru Sekolah Dasar) saja sangat ketat. Ribuan pelamar selalu  gagal untuk masuk PGSD tiap tahunnya. Hanya orang-orang terbaik yang mampu menjadi guru SD.
            Masyarakat dan orang tua atau wali murid memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada guru yang telah dianggap mumpuni, terampil, terlatih dan memiliki kompetensi. Kebebasan diberikan kepada para guru untuk menciptakan lingkungan kelas yang baik sehingga guru memiliki otoritas untuk mengambil keputusan. Guru terbebas dari persyaratan pemeriksaan ( inspeksi), tes standarisasi dan kontrol pemerintah yang rigid. Para guru berhak membuat kurikulum yang dianggap baik bagi mereka serta memilih buku materi yang sesuai.
            Less is more yaitu menyederhanakan kompleksitas dan mengurangi beban berlebih menjadi filosofi pendidikan yang maha ampuh bagi kesuksesan Finlandia dibidang pendidikan. Memang Human Resources atau SDM siswa-siswa di Indonesia dan Finlandia tidak bisa disamakan, tapi akankah sebuah perubahan terjadi tanpa adanya kemauan kita untuk berubah. Bukankah kita ( Indonesia)  tidak pernah mencoba menancapkan kuku pada satu filosofi pendidikan dalam rentang waktu lama dan melihat hasilnya? Kita secara konstan selalu mencoba ide baru, metode baru, dan inisiatif baru yang karena tidak konsisten akhirnya layu sebelum berkembang. Atau kita rajin menambah-nambah makanan ke dalam piring tanpa peduli masih ada makanan yang belum kita habiskan. Sekolah hanya mengajarkan ilmu pengetahuan tentang angka-angka dan hapalan-hapalan yang akhirnya mengebiri arti penting mengasah kemampuan untuk  kritis dan kreatif  mengatasi masalah dalam kehidupan nyata.
            Memang di dalam Al-Quran tercantum kata ilm sebanyak 854 kali. Menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan modal besar dan istemewa bagi manusia. Namun saat ini betapa sulit mencari kaum intelektual organis. Lebih gampang menemukan kaum intelektual oportunis yaitu kaum intelek yang hanya mementingkan kepentingan jangka pendek atau ingin menggapai capaian finansial belaka. Belajar dari yang berjaya ( Finlandia) perlukah?




Gending Kenangan 2