11/09/ 20200 Comments
07/09/ 20200 Comments
11/08/ 20200 Comments
04/08/ 20200 Comments
Saya sangat bersyukur mendapatkan kesempatan mengakses simpatik.belajar.kemdikbud.go.id dengan menggunakan akun belajar.id. Bagi saya mendapatkan kesempatan belajar bersama Pusat data Teknologi dan Informasi Pendidikan dan Kebudayaan (PUSDATIN) adalah sebuah karunia. PembaTIK (Pembelajaran Berbasis TIK) Tahun 2022 dibagi menjadi beberapa tahap yang harus kita lalui dengan baik dan menguji keseriusan kita dalam belajar yaitu pada bulan Juni – Agustus tahap Literasi, bulan Juli – Agustus tahap Implementasi, bulan Sepetember tahap Kreasi, dan bulan Oktober- November tahap Berbagi dan Berkolaborasi. Itulah salah satu manfaat yang saya rasakan yaitu memudahkan saya sebagai pendidik mengakses berbagai platform dari Kemendikbudristek. Selain itu akun belajar.id juga banyak membantu saya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dan yang tidak kalah penting adalah dapat menyimpan dokumen secara daring dengan ruang penyimpanan lebih aman tanpa batas.
Pada tahun 2022 ini saya terdaftar sebagai
peserta PembaTIK Level 1 2022 gelombang 48 yang banyak membuat saya memiliki self-efficay,
work readiness dan work motivation yang lebih baik. Banyak
gagasan-gagasan baru yang saya dapat ketika mengikuti PembaTIK, salah satunya
saya semakin bijak dalam memilih media pembelajaran yang saya pertimbangkan
dengan lebih matang berdasarkan beberapa aspek seperti tujuan, sasaran didik,
karakteristik media, waktu pengoperasian, biaya, ketersediaan, konteks
penggunaan dan mutu teknis. Pada PembaTIK Level 1 saya berada pada tahap
literasi yaitu saya belajar tentang Ekosistem Digital Merdeka Belajar. Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim mengemukakan
tentang Merdeka Belajar sebagai emancipated learning yang free the
mind, free their potential dan free every level of institution.
Merdeka Belajar sejatinya memang memberi kita otonomi (autonomy),
fleksibilitas (flexibility) dan penghargaan terhadap keberagaman (respect
diversity).
![]() |
Foto 1: Mengikuti PembaTIK untuk meningkatkan kompetensi diri di bidang TIK |
Pada PembaTIK Level 4 saya melakukan kegiatan
berbagi dan berkolaborasi baik secara luring di beberapa sekolah maupun daring
dengan sesama Sahabat Rumah Belajar (SRB) melalui kegiatan webinar. Sebagaimana
di tengah kesibukan para SRB, saya juga bergelut dengan waktu dalam mengikuti
PembaTIK. Pada Level Berbagi dan Berkolaborasi merupakan saat-saat banyak
kegiatan lain sedang on process. Namun bagi saya selalu ada hikmah yang saya
dapat petik. Saat saya bertugas sebagai narasumber Bimtek Guru Pembimbing
Khusus (GPK) saya dapat sekaligus melaksanakan sosialisasi tentang Rumah Belajar.
Demikian juga saat saya menjalankan
tugas sebagai fasilitator Calon Guru Penggerak (CGP) saya juga sekaligus dapat
mengajak CGP memanfaatkan Platform Rumah Belajar. Selain melaksanaakan kegiatan
sosialisasi di sekolah sendiri yaitu SMPN 4 Muara Teweh saya juga melaksanakan
sosialisasi di beberapa sekolah di di desa tempat saya mengajar. Tidak hanya
berhenti sampai disitu saya juga melaksanakan sosialisasi di beberapa sekolah lintas desa,kecamatan dan kabupaten.
Lebih-lebih saat ini, kita dapat meyelenggarakan sosialisasi dengan mudah menggunakan moda daring yaitu webinar. Webinar tentang praktik baik penyelenggaraan pembelajaran berbasis TIKyang memanfaatkan Rumah Belajar juga saya lakukan baik interen dengan sesama SBR di dalam 1 (satu) kabupaten/kota,maupun dengan beberapa SRB yang berada dalam satu provinsi maupun dari provinsi lainnya. Ada kelebihan melakukan sosialisasi dengan moda daring yaitu seperti kita lebih safety dari terjangkit virus Covid-19 yang saat ini belum mereda dan kegitaan sosialisasi dapat dilakukan di rumah sendiri. Namun melalui moda daring interaksi antara pemateri dengan peserta menjadi kurang inten dan keterbatasan waktu menjadi kendala juga untuk belajar lebih mendalam tentang pembelajaran berbasis TIK dan Rumah Belajar. Namun untuk mengatasi permasalahan tersebut saya juga menyelenggarakan sosialisasi tentang pemanfaat TIK dan Rumah Belajar secara luring. Bahkan saya menyertakannya dalam kegiatan coaching, pendampingan,diskusi maupun ngobrol santai dengan banyak guru lainnya.
Kita ketahui bersama, Kurikulum Merdeka yang diluncurkan tanggal 11
Februari 2022 menggunakan kerangka dasar Sistem Pendidikan Nasional atau SISDIKNAS,
Standar Nasional Pendidikan atau SNP dan Profil Pelajar Pancasila. Dengan
mengikuti PembaTIK saya menjadi memiliki cakrawala berpikir yang lebih luas
tentang berbagai hal menyangkut struktur kurikulum yang menggunakan Jam
Pelajaran (JP) pertahun dan proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila atau PPPP
(20-30 % JP) dan penerapan bembelajaran yang terdiferensiasi. Selain itu jika
pada Kurikulum 2013 kita masih menggunakan Kompetensi Dasar (KD) maka pada
Kurikulum Merdeka kita menggunkan Capaian Pembelajaran dengan menekankan pada
penilaian formatif dan penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan tanpa ada
pemisahan.
![]() |
Foto 2: Mengikuti Program Pilot CS50 Harvard University untuk meningkatkan kompetensi di bidang TIK |
Mengapa
Rumah Belajar Sangat Relevan Sebagai Sahabat Belajar?
![]() |
Foto 3: Memanfaatkan Portal Rumah Belajar untuk Penyelenggaraan Pembelajaran Berdiferensiasi |
Saya telah lama tertarik memanfaatkan Rumah Belajar dalam mendukung praktik-praktik baik dalam pembelajaran. Hal ini karena Portal Rumah belajar sangat user friendly bagi kita para pendidik maupun peserta didik. Salah satu yang saya lakukan adalah memanfaatkan portal Rumah Belajar untuk menyelenggarakan pembelajaran yang berdiferensiasi. Kita
telah ketahui bersama bahwa elemen utama Merdeka Belajar adalah kemerdekaan dan
kemandirian. Pembelajaran sedapatnya deselenggarakan secara inovatif,
konstektual (contextual teaching and learning) dan mandiri. Portal Rumah
Belajar hadir untuk menjawab tantangan yang muncul di era education 4.0
tersebut yaitu dengan menyediakan sumber belajar digital. Masih ada lagi
layanan berbasis TIK Kemendikbudristek yang dapat kita manfaatkan seperti Akun
Pembelajaran (belajar.id), Platform Merdeka Mengajar, dan SIM-PKB GTK. Kemerdekaan
belajar dalam pembelajaran mandiri dapat mengasah cognitive skills seperti
menyelesaikan masalah secara logis, metacognitive skills seperti
keterampilan menulis dan affective skills seperti membangkitkan motivasi.
Oleh karena itu, untuk turut serta mensukseskan kemerdekaan belajar saya mengikuti
PembaTIK 2022 yang banyak menambah ilmu pengetahuan dan mengembangkan literasi saya
tentang perangkat TIK untuk pembelajaran, perangkat pembelajaran kolaboratif,
pemanfaatan media sosial untuk pembelajaran dan lain-lain. Saya merasa semakin terakselerasi untuk
menjadi pendidik yang kekinian dan dapat mengikuti perkembangan zaman dalam
mendidik (student-centered) karena peserta didik dapat belajar dengan
lebih efektif bersama Rumah Belajar. Hal ini juga selaras dengan program
Sembilan Belas Episode Merdeka Belajar diantarnya Merdeka Belajar dan Kurikulum
Merdeka dan Platform Merdeka Mengajar tentang mengajar, belajar dan berkarya.
![]() |
Foto 4: Semangat Menyukseskan Pembelajaran Berbasis TIK Bersama Rumah Belajar |
Platform
edukasi seperti Platform Merdeka Mengajar membuat guru dapat membagikan
pengalaman mengajar, belajar, dan berkarya serta menggunkan perangkat ajar
sampai melakukan assessmen murid lalu membagikannya video inspirasi lewat bukti
karya saya adalah sebuah bentuk implementasi dari pendidik yang memiliki digital
competence. Kompetensi digital yang baik dari pendidik akan berpengaruh
pada kemampuan mereka dalam mendesain pembelajaran (self-regulated learning)
(Dig Comp 2.1). Selain itu penguasaan teknologi digital akan membantu pendidik dalam
mendesain pembelajaran yang inklusif, personalized, melibatkan (engaging),
komunikatif, kolaboratif dan profesional.
Belajar
menjadi semakin seamless dan immersive dengan adanya Portal Rumah
Belajar karena belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan dengan siapa
saja. Fitur-fitur yang ada di Rumah Belajar juga semakin lengkap yang membuat
peserta didik dan saya sendiri sebagai pendidik semakin tertarik belajar
bersama Rumah Belajar seperti Sumber Belajar, Buku Sekolah Elektronik, Bank
Soal, Laboratorium Maya, Peta Budaya, Wahana Jelajah Angkasa, Pengembangan
Keprofesian Berkelanjutan (PKB), Kelas Maya, Karya Komunitas, Karya Guru, Karya
Bahasa dan Sastra, Augmented Reality dan Edugame Rumah Belajar. Fitur-fitur di
Portal Rumah Belajar memfasilitasi kita sebagai pendidik dan peserta didik
dapat melakukan self-organized learning environment. Selain itu
pembelajaran berbasis digital melalui Rumah Belajar dapat berperan sebagai technology
enhanced learning dengan menggunakan pendekatan TPACK (Technological
Knowledge, Pedagogical Knowledge and Content Knowledge). Fungsi pembelajaran
digital sendiri dapat menjadi suplemen,komplemen dan juga berperan sebagai
subtitusi. Pembelajaran digital seperti penggunaan Rumah Belajar sebagai a
large collection of computers in networks that are tied together so that many
users can share their vast resources (William, 1999).
Pola
belajar di era society 5.0 seperti sekarang memang diharapkan dapat think globally
act locally yaitu dengan menggali pengetahuan sebanyak mungkin dari
berbagai sumber referensi namun dapatr menerapkan sesuai dengan kubutuhan dan
kondisi lokal. Pembelajaran berdiferensiasi sangat terdukung dengan adanya
Rumah Belajar. Pembelajaran digital yang semakin beragam seperti M-Learning
dengan menggunakan handphone dan lain-lain, social media, Games Based
Learning atau Cloud Computing (google drive) semakin mengakomodasi
kebutuhan, keberagaman dan profil belajar peserta didik. Pembelajaran digital
bersama Rumah Belajar dapat menyesuaikan kebutuhan perseta didik sehingga
penyelenggaraan pembelajaran menjadi relevan dan konstektual. Peserta didik
juga dapat belajar di luar jam belajar di sekolah dengan rumah belajar seperti
untuk pembelajaran pengayaan maupun remedial. Sebagai komplemen dalam belajar
dapat pula dilakukan secara asinkron atau sinkron menggunakan Learning Management
System (LMS) yang mengacu pada technological dan content
knowledge. Contohnya dapat dilakukan pembelajaran berbasis masalah (problem-based
learning) yang hasilnya dipresentasikan oleh kelompok peserta didik melalui
aplikasi vicon.
Praktik
Baik Penggunaan Aplikasi Pintar dalam Pembelajaran (Edu-Game Learning)
Salah
satu tugas guru yang tidak kalah penting adalah melaksanakan proses penilaian
kepada peserta didik. Tujuannya untuk melihat perkembangan peserta didik, baik dari
segi pengetahuan (kognitif), sikap maupun keterampilan. Selama ini masih banyak
guru yang melaksanakan penilaian dengan mode konvensional, yakni mengerjakan soal
di kertas. Cara ini dianggap paling praktis dan terjangkau karena guru hanya
perlu menggandakan soal sejumlah siswa. Di era teknologi yang semakin canggih
ini, hampir semua kegiatan dapat dilakukan melalui handphone yang kita genggam
sehari-hari, termasuk melakukan penilaian kepada siswa secara formal. Sudah
saatnya institusi pendidikan berbenah untuk mengurangi penggunaan kertas dan
beralih kepada mode online untuk setiap kegiatan pembelajaran. Aplikasi Pintar
hadir untuk membantu guru mempermudah pelaksanaan penilaian. Hasil kerja siswa
tersimpan di dalam data aplikasi dan dapat dicetak di akhir semester sebagai
laporan untuk sekolah dan siswa.
Penilaian
merupakan proses penting dalam pembelajaran peserta didik. Kegiatan ini
hendaknya dilakukan secara sistematis, terencana baik dalam bentuk tes formatif
maupun tes sumatif. lebih-lebih kita perlu memperbanyak porsi tes formatif
sehingga penggunaan aplikasi pintar menjadi begitu relevan. Dengan demikian
diharapkan penilaian menjadi proses yang mampu menggambarkan hasil belajar
siswa dan guru dapat secara berkesinambungan meningkatkan kualitas mengajarnya.
Di era teknologi yang serba canggih ini, hampir semua kegiatan dapat
dilaksanakan secara online, terlebih di era new normal setelah pandemi.
Pembelajaran yang terbiasa dilakukan secara tatap muka kini beralih ke
pembelajaran online atau dalam jaringan (daring). Begitu pula dengan penilaian,
guru dapat melaksanakan kegiatan ini secara daring melalui website maupun
aplikasi. Saya perkenalkan aplikasi pintar yang akan membantu guru
menyelenggarakan penilaian secara sistematis dan terencana. Siswa dapat mengakses
soal dengan mudah dan mereka dapat melihat hasilnya di akhir.
Dengan
adanya aplikasi Pintar, manfaat secara umum yang akan diperoleh yaitu pertama,
membantu guru dalam melaksanakan proses penilaian kepada siswa. Kedua, menjangkau
kegiatan penilaian dan lebih fleksibel. dan ketiga, melahirkan inovasi
yang menarik. Dengan sistem ini proses penilaian pada pembelajaran jarak jauh
akan lebih menarik dan menyenangkan. Bagi guru, aplikasi Pintar dapat digunakan
sebagai: alat untuk melakukan proses penilaian alat pembuat soal ujian yang
disertai batas waktu pengerjaan alat pencetak laporan nilai siswa (dapat berupa
laporan individu maupun kolektif) Sementara bagi siswa, aplikasi Pintar
digunakan sebagai: media untuk mengerjakan soal ujian secara online, media penyimpan
skor ujian dan sebagai tempat melaksanakan ujian untuk semua pelajaran.
Aplikasi
Pintar dapat dipasang di semua handphone berbasis android. Sementara guru
memegang akun website sebagai tempat untuk mengelola aplikasi, termasuk di
antaranya adalah membuat soal, membuat daftar kelas, menambah daftar mata
pelajaran, mengelola siswa dan nilai yang masuk. Aplikasi Pintar merupakan alat
yang mendukung proses penilaian siswa yang diakses secara elektronik di
handphone masing-masing. Untuk guru, masing-masing akan mengelola isi dari
aplikasi melalui website. Dengan demikian, setiap guru akan mendapatkan hak
akses untuk: mengelola aplikasi di website dengan akun masing-masing membuat
soal secara bebas melalui website dan akan diakses oleh siswa melalui aplikasi
menambahkan siswa yang masuk mengelola nilai dari hasil siswa mengerjakan soal
Tahapan
untuk mengakses Website aplikasi Pintar adalah sebagai berikut:
1. Buka browser;
2.
Ketikkan URL https://pintar.icebeem.com
3.
Untuk pengguna baru, Anda diminta untuk membuat akun.
Namun
sebelum membuat akun, Anda harus mendaftarkan nama sekolah terlebih dahulu.
Seperti
pada banyak aplikasi, siswa harus mengisi kolom Nama, Email, Nomor HP, Alamat
dan memilih sekolah tempat ia belajar. Kemudian klik "Register" dan peserta
didik sudah memiliki akun. Sebagai guru, Anda bisa meminta siswa untuk
menuliskan nama lengkap sesuai format yang diinginkan agar data peserta dapat
terlihat rapi.
Pembelajaran
Berdiferensiasi Menggunakan Portal Rumah Belajar dan Mendiseminasikannnya
Undang-Undang
No. 2 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Pasal 36 Ayat 2 berbunyi “Kurikulum pada
semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah dan peserta didik”. Hal ini
menegaskan bahwa sekolah memiliki kemandirian dan kesempatan untuk
mengembangkan kurikulum operasional yang disesuaikan dengan potensi daerah dan
peserta didik masing-masing. Kurikulum kemudian dapat diimplementasikan dalam
bentuk suasana pembelajaran berdiferensiasi yang disesuaikan dengan keadaan,
kemampuan, kemauan atau kesukaan, kebutuhan dan perbedaan setiap peserta didik.
Fleksibilitas atau keluwesan, kemudahan dan kecepatan kurikulum dalam
menyesuaikan diri memberikan peluang juga kepada peserta didik untuk dapat
mengelola sendiri proses pembelajaran dan lingkungan belajarnya. Model
kurikulum fleksibel dengan kemampuan beradaptasi dan kemudahan akses ini akan
akan membentuk bangunan pribadi peserta didik yang memiliki pengetahuan dan
keterampilan secara utuh.
Ketika
peserta didik datang ke sekolah,mereka mempunyai beraneka ragam perbedaan baik
secara kemampuan, pengalaman, bakat, minat, bahasa ibu, kebudayaan, latar
belakang keluarga, sosial, ekonomi dan
cara belajar. Oleh karena itu, keanekaragaman layanan dari tinjauan perbedaan
karakteristik peserta didik pun perlu diterapkan. Peserta didik perlu diberikan
ruang untuk memberikan voice (suara), choice (pilihan) dan ownership
(kepemilikan) untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab dalam
pembelajaran mereka sendiri, misalnya, peserta didik diberikan keleluasaan
mengerjakan tugas sesuai dengan minat dan pilihannya. Maka pendidik dapat
mengimbanginya dengan memberikan layanan pembelajaran yang bervariasi kepada
peserta didik disesuaikan dengan tingkat kesiapan belajar (teaching at the
right level), minat, bakat dan gaya belajar peserta didik.
Salah
satu contoh yang dapat dilakukan pendidik adalah menggunakan bahan atau
perangkat ajar berbasis cetak seperti buku teks, modul ajar atau buku bacaan
yang lebih bervariasi. Selain itu dalam pembelajaran berdiferensiasi pendidik
juga dapat menggunakan bahan ajar bervariasi lain berbasis teknologi dari
sumber belajar portal Rumah Belajar seperti siaran audio, televisi, film,
edugame (game-based learning), digital video, multimedia interaktif, augmented
reality, dan virtual reality atau berbasis praktik, proyek dan melibatkan
interaksi manusia seperti alat peraga, lembar observasi, lembar wawancara dan
gawai (telepon genggam). Pemilihan bahan ajar mengacu pada pendekatan
individual yaitu personalized dan customized.
Pendekatan
personal kepada setiap peserta didik juga dilakukan dengan memberikan materi
yang esensial dengan capaian pembelajaran sebagai kompetensi yang utuh.
Penguatan kompetensi meliputi pengetahuan (knowledge and concepts),
keterampilan (mental skills and physical skills) dan karakter (attitude)
yang diarahkan kepada pembentukan Profil Pelajar Pancasila. Sekolah tentu
diberikan kemerdekaan memilih kurikulum yang digunakan apakah memilih kurikulum
nasional, kurikulum dalam kondisi khusus atau kurikulum mandiri. Dalam
Kurikulum Merdeka, visi yang dibangun adalah hasil dari pemikiran Bapak
Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara yang menyatakan bahwa kemerdekaan
adalah tujuan pendidikan. Memerdekakan pembelajaran akan menjadi sebuah
pengalaman yang menyenangkan bagi pendidik dan peserta didik dan tidak lagi
menjadi beban pembelajaran karena pendekatan rigid seperti standarisasi
pun dirubah menjadi pendekatan heterogenitas. Memerdekakan pendekatan pedagogi
yang diarahkan menjadi berpusat pada peserta didik (student-centered)
atau personalisasi dan menghindari pendekatan pendagogi pukul rata (one size
fits all) serta setiap pendidik dapat bebas berinovasi tanpa dibebani
perangkat administrasi adalah bentuk upaya kita menuju kemerdekaan pendidikan.
Paradigma
baru dalam pembelajaran yang memerdekakan pendidikan perlu dipahami oleh
seluruh pemangku kepentingan. Pembelajaran dengan paradigma baru ini kita sebut
pembelajaran berdiferensiasi yang mensinergikan antara kurikulum, bentuk
pembelajaran sampai pada asesmen. Penyelenggaraan pembelajaran berdiferensiasi
dimulai dengan asesmen diagnostik untuk mengukur kesiapan belajar,minat dan
cara belajar (profil belajar) peserta didik sebagai asesmen awal (pre-knowledge)
sebelum memulai proses belajar yang dilakukan melalui tes tertulis, wawancara,
survey, observasi dan atau tes minat dan bakat.
Tidak ada one-size-fits-all untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
seperti bagaimana peserta didik belajar atau bagaimana pendidik seharusnya
mengajar karena peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda seperti
visual, audio visual, kinestetik. Honey-Mumford model mengemukakan bahwa
beberapa peserta didik memiliki gaya belajar learning by doing dan tidak
menyukai belajar dari membaca atau mendengar yang disebut gaya belajar aktivis
(activist). Namun beberapa peserta didik yang lain menyukai pencarian
pada ide-ide baru (pragmatist), tidak menyukai subjektivitas (theoritist)
dan stand-back sebelum melakukan observasi (reflector).
Oleh
karena itu, beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pendidik yaitu; pertama,
memberikan layanan pembelajaran baik bersifat klasikal maupun individual untuk
mengakomodasi peserta didik yang memiliki gaya belajar, keunikan, potensi dan
motivasinya yang beraneka ragam. Kedua, memberikan layanan pembelajaran
yang sesuai dengan pengalaman langsung peserta didik (direct experiences)
sebagai kunci dalam melaksanakan pembelajaran. Pemberian tugas-tugas otentik
yang mengaitkan pengalaman pribadi peserta didik baik dari dalam sekolah maupun
di luar sekolah (situated learning) akan menarik perhatian dan minat
peserta didik sehingga mereka akan merasa terhubung lebih dalam secara fisik,
kognitif dan emosional terhadap proses pembelajaran serta rasa keterlibatan
atau kepemilikan (ownership) terhadap proses pembelajaran juga akan
semakin baik. Kemudian yang ketiga, mendorong proses metakognisi atau
kesadaran dan keyakinan peserta didik terhadap proses berpikir mereka sendiri
sehingga dapat menghubungkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah
mereka miliki sebelumnya untuk menghasilkan sesuatu baik pengetahuan atau
produk baru karena sifat pengetahuan terus berkembang dan berubah. Terakhir
yang keempat, memberikan dukungan (scaffolding) kepada peserta
didik sesuai dengan tingkat perkembangan, pengalaman dan pengetahuan peserta
didik serta mendorong peserta didik
dapat melaksanakan belajar mandiri dan berkolaborasi dalam upaya
problem-solving namun tetap di bawah bimbingan pendidik. Menurut teori Vigotsky tentang Zone of
Proximal Development (ZPD), peserta didik akan lebih optimal dalam belajar
melalui proses kolaborasi dibawah bimbingan orang dewasa. Disinilah kemudian peran Rumah Belajar begitu signifikan dalam penyelenggaraan pembelajaran yang menarik, relevan dan menantang.
Berbagi
dan Berkolaborasi
Bagi saya dengan berkolaborasi dan berbagi kita akan semakin kuat dan membawa dampak positif yang lebih besar. Saya juga melakukan kolaborasi dengan media baik online: Merdeka Belajar dalam Rumah Belajar maupun cetak agar semakin besar peluang saya dapat berbagi sebanyak-banyaknya tentang kebermanfaatan Rumah Belajar bagi masyarakat luas. Sebagai pendamping dan fasilitator Calon Guru Penggerak (CGP), saya juga sangat antusias karena memiliki kesempatan yang luas untuk mengenalkan Rumah Belajar kepada para CGP.
![]() |
Foto 5: Sosialisasi Pedagogi Siber sebagai Bentuk Pembelajaran Berbasis TIK |
![]() |
Foto 6: Mengenalkan YouTube Rumah Belajar dan YouTube TV Edukasi |
![]() |
Foto 7: Berbagi tentang Kebermanfaatan Rumah Belajar melalui Media Cetak |
Semoga
visi pendidikan nasional yaitu generasi emas di tahun 2045 dapat terwujud
dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran individual yang
dapat menjangkau semua peserta didik serta memberikan keleluasaan semua peserta
didik menjadi tutor sebaya baik di kelompok besar, kelompok kecil atau mandiri
dalam belajar. Sejatinya kelas berdiferensiasi sangat menghargai kecerdasan
majemuk sebagaimana dikemukaan oleh Howard Garner tentang multiple
intellegencies sehingga penugasan multi opsi perlu sering diterapkan.
Pendidik perlu menyadari bahwa di sekolah mereka bisa jadi terdapat peserta
didik yang memiliki hambatan sosial-ekonomi, hambatan penglihatan, hambatan
pendengaran, hambatan intelektual, kelainan kecerdasan, hambatan fisik,
hambatan perilaku, hambatan emosi, kesulitan belajar spesifik atau hambatan
belajar lainnnya. Pendidikan mesti untuk semua. Bersama Rumah Belajar upaya mewujudkan pendidikan untuk semua juga akan semakin optimal. Satu yang menjadi komitmen bahwa kegiatan berbagi dan berkolaborasi tentang pemanfaatan TIK dan pemanfaatan Rumah Belajar akan terus saya lakukan meskipun tidak lagi berada di Level4 PembaTIK karena bagi saya yakin dan percaya kegiatan berbagi dan berkolaborasi akan memberdayakan dan memperkuat kita semua. Hal ini juga berlaku saat saya tidak berada di Level 4 PembaTIK pada tahun-tahun sebelumnya, semangat berbagi dan berkolaborasi telah saya laksanakan dan telah menyala.
![]() |
Foto 8: Semangat Calon Guru Penggerak (CGP) Menyambut Rumah Belajar |
Saya bersyukur dapat mengikuti Pembekalan Calon Fasilitator Angkatan 11 Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Tahun 2022 yang diselenggarakan secara daring pada 06 – 19 September 2022. Pembekalan ini menghadirkan banyak pemateri seperti Pak Kasiman, Bu Dwikora Hayuati, Pak Wandy Praginda, Bu Itje Chodidjah, Pak Simon Rafael, Pak Yoki Ariana, Bu Rahmi Yunita, Bu Tista Sandy Rakhmawati, Bu Fadila Mutiarawati, Bu Wahyu Ekawati, Pak Markus Hernoko, Pak Reddison dan Pak Aditya Darma. Ada beberapa keuntungan yang saya dapat jika saya menjadi fasilitator yaitu saya dapat mengetahui lebih awal detail informasi seperti implementasi kurikulum merdeka yang tidak bisa kita peroleh di bangku perkuliahan. Kami melakukan bedah modul 1.1 hingga 3.3 sesuai dengan kurikulum guru penggerak yaitu modul 1. Paradigma dan Visi Guru Penggerak (perubahan diri), modul 2. Praktik Pembelajaran yang Berpihak pada Murid (perubahan rekan) dan modul 3. Pemimpin dalam Pengelolaan Sekolah (perubahan sekolah)
Pada modul 1.1 ini kami belajar tentang Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara (KHD) yang memiliki relevansi dengan Pendidikan abad ke-21. Refleksi filosofi KHD juga disesuaikan dengan konteks lokal yang kaya dengan nilai-nilai luhur sosial dan budaya setempat. Konstektualisasi filosofi Pendidikan KHD yang terkenal adalah tentang budi pekeri (cipta, karsa, karya), Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa dan Tut Wuri Handayani yang keempatnya menuntun peserta didik mencapai kekuatan kodratnya. Hal ini karena dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman sebagaimana yang saya tulis dalam sebuah artikel yang terbit di sebuah harian di Jawa Timur https://www.harianbhirawa.co.id/guru-penggerak-sang-transformer/ Pada modul 1.1 juga dipelajari tentang peran sekolah yang bernama Taman Siswa yang didirikan tahun 1922 yang mana makna pendidikan bertujuan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya. Peserta didik diharapkan dapat merdeka batin yaitu memuliakan dirinya dan orang lain dan merdeka lahir yaitu menjadi mandiri. Selain itu kami dibekali tentang pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana KHD mengibaratkan peran pendidik seperti petani atau tukang kebun sedangkan anak-anak seperti biji tumbuhan yang ditanam
Pada modul 1.2 yaitu pembelajaran tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Nilai-nilai kebajikan yang bersifat universal perlu dijadikan common ground bagi seorang guru penggerak. Guru adalah adalah manusia yang harus dapat tergerak, dan menggerakkan manusia lainnya. Apabila guru memiliki kesadaran bagaimana dirinya tergerak selanjutnya guru dapat menggerakkan orang lain yaitu dengan menuntun sesuai kekuatan kodratnya dan disesuaikan dengan tahap perkembangannya. Dalam tahap tumbuh kembang anak kita mengenal teori Ki Hadjar dewantara yaitu Wiraga-Wirama dan teori tahap perkembangan psikososial Erik Erikson yang dapat dijadikan acuan. Manusia (guru) merdeka bergerak: berdaya dalam memilih, termotivasi dari dalam dan berupaya mewujudkan profil pelajar Pancasila. Oleh karena itu guru penggerak perlu memahami nilai-nilai guru penggerak seperti berpihak pada murid, reflektif, mandiri, kolaboratif,dan inovatif serta dapat berperan menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain,mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid (student agency) dan menggerakkan komunitas praktisi. Selain itu saya juga belajar tentang diagram identitas gunung es yang menjelaskan tentang pentingnya pengkondisian dan pembiasaan dalam menumbuhkan karakter seseorang. Lalu pembelajaran tentang trapezium usia, Triune Brain, roda emosi Plutchik yang semankin menambah cakrawala berpikir saya semakin luas. Saya juga semakin memahami tentang bagaimana manusia tergerak, bergerak dan menggerakkan.
Modul 1.3 berisi tentang Visi Guru Penggerak. Materi yang dipelajari diantaranya tentang pentingnya visi guru penggerak sebagai representasi visual akan masa depan. Visi berpeluang menghubungkan hati lebih banyak pihak sehingga dapat mengundang upaya kolaboratif. Untuk mewujudkan visi diperlukan jalan kesinambungan, berkelanjutan dan hubungan gotomg-royong, bukan hubungan transaksional atau jalan untuk mencari kemenangan semata. Materi lainnya yaitu tentang paradigma sekaligus model manajemen perubahan yang memegang prinsip psikologi dan pendidikan positif berbasi kekuatan yang disebut Inkuiri Apresiatif (IA). IA sebagai pendekatan manajemen perubahan menggunakan pola BAGJA yaitu buat pertanyaan (define), ambil pelajaran (discover), gali mimpi (dream), jabarkan rencana (design) dan atur eksekusi (deliver). BAGJA adalah gubahan tahapan IA yang merupakan pendekatan dalam manajemen perubahan. Salah satu kekuatan BAGJA yaitu terletak pada proses penggalian jawaban pertanyaan yang didasari oleh rasa ingin tahu, kebaikan dan kebersamaan. Menurut Evans (2001), untuk memastikan bahwa perubahan dapat terjadi secara mendasar dalam operasional sekolah, maka pemimpin sekolah hendaknya mulai dengan memahami dan mendorong perubahan budaya sekolah. Hal ini semakin diperkuat oleh Ki Hadjar Dewantara tentang peralatan pendidikan sebagai cara mendidik anak yaitu dengan: memberi contoh, pembiasaan, pengajaran, perintah,paksaan dan hukuman, laku dan pengalaman lahir dan batin.
Modul 1.4 adalah Budaya Bositif. Lingkungan yang positif diperlukan agar pembelajaran yang terjadi adalah pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana yang tertuang dalam standar proses pada Standar Nasional Pendidikan pasal 12. Dalam Budaya positif terdapat nilai-nilai kebajikan universal dan disiplin positif. Disiplin positif adalah motivasi yang tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah karena disiplin positif memiliki tujuan mulia. Disiplin sebagai bentuk kontrol diri yaitu belajar untuk kontroldiri agar dapat mencapai suatu tujuan mulia (Ki Hadjar Dewantara dan Diane Gossen). Sementara itu nilai-nilai universal adalah nilai-nilai kebajikan yang disepakai bersama terlepas dari latar belakang suku,agama dan lain-lain seperti nilai-nilai yang terkandung dalam profil pelajar Pancasila. Selain itu pada modul 1.4 juga dipelajari tentang Segitiga Restitusi. Restitusi sebagai proses kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka, seperti apa yang mereka inginkan dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain (Chelsom Gossen, 1996). Restitusi adalah pendekatan untuk menciptakan disiplin positif, belajar dari kesalahan, memperbaiki hubugan, bersifat “menuntun” dan “menawarkan”., mencari kebutuhan dasar yang mendasari tindakan, fokus pada karakter (bukan tindakan), fokus pada solusi dan mengembalikan murid yang berbuat salah pada kelompoknya.
Selanjutnya, berikut ini adalah hasil resume pemahaman konsep modul 2 dan 3.
Modul 2.1 Pembelajaran untuk Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid
Pada modul 2.1 ini kami
belajar tentang pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid sebagai
salah satu sub modul 2 yaitu praktik pembelajaran yang berpihak pada murid. Kami
juga belajar tentang profil belajar, pembelajaran berdiferensiasi, teori
scaffolding, perspektif equalizer dan strategi penilaian formatif.
Profil belajar
merupakan
pendekatan yang disukai murid untuk belajar, yang dipengaruhi oleh gaya
berpikir/belajar, kecerdasan, budaya, latar belakang, jenis kelamin, dan
lain-lain. Sangat penting menerapkan teknik pembelajaran di mana murid
diberikan sejumlah bantuan, kemudian perlahan-lahan diadakan pengurangan
terhadap bantuan tersebut hingga pada akhirnya, murid dapat menunjukkan
kemandirian yang lebih besar dalam proses pembelajaran (scaffolding).
Pembelajaran itu perlu memenuhi kebutuhan belajar semua murid, menyesuaikan
kebutuhan belajar murid seperti kesiapan belajar murid, minat murid, profil
belajar murid dan berdiferensiasi.
Kesiapan belajar murid bukanlah tentang tingkat
intelektualitas (IQ). Hal ini lebih kepada informasi tentang apakah pengetahuan
atau keterampilan yang dimiliki murid saat ini, sesuai dengan pengetahuan atau
keterampilan baru yang akan diajarkan. Adapun tujuan memperhatikan kebutuhan
belajar murid berdasarkan tingkat kesiapan belajar ini adalah untuk memastikan
bahwa semua siswa diberikan pengalaman belajar yang menantang secara tepat
(Santangelo & Tomlinson (2009) dalam Joseph et.al (2013: 29)). Berikut ini adalah perspektif
equalizer (Tomlinson (2001:47).
1.
Mendasar –
Transformatif
2.
Konkret –
Abstrak
3.
Sederhana –
Kompleks
4.
Terstruktur –
Terbuka
5.
Tergantung –
Mandiri
6.
Lambat – Cepat
Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha guru
untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan
belajar individu murid (Tomlinson (1994:14). Pembelajaran berdiferensiasi bukan
mengelompokkan yang pintar dengan yang pintar, yang kurang dengan yang kurang,
memberikan tuga syang berbeda untuk setiap anak, atau guru yang berlari membatu
kesana kemari membantu si A,si B,si C. Pembelajaran berdiferensiasi adalah
pembelajaran dengan kurikulum (tujuan pembelajaran) didefinisikan secara jelas,
lingkungan belajar yang mengundang murid untuk belajar dan adanya penilaian
berkelanjutan (penilaian formatif).
Proses pembelajaran berdiferensiasi juga
mensyaratkan adanya praktik-praktik penilaian yang baik. Pemerintah sendiri telah
menetapkan Standar Penilaian Pendidikan, dimana dijelaskan bahwa tujuan dari
standar itu adalah menciptakan proses penilaian yang mengarah pada tercapainya
standar kompetensi lulusan. Proses penilaian dilakukan dan digunakan bukan
hanya untuk menilai hasil akhir dari proses pembelajaran, namun yang paling
penting adalah bagi perbaikan proses pembelajaran sehingga semua murid dapat
mencapai kemajuan dalam proses belajarnya. Proses pengumpulan dan pengolahan
informasi tentang hasil belajar murid dengan demikian tentunya harus
dilaksanakan secara terus menerus. Dalam praktek pembelajaran berdiferensiasi,
praktik penilaian yang terus menerus ini menjadi satu hal yang sangat penting
untuk diperhatikan oleh guru, karena strategi pembelajaran yang dipilih oleh
guru akan sangat bergantung pada informasi yang didapat oleh guru melalui
proses penilaian ini.
Terdapat 7 (tujuh) ciri pembelajaran
berdiferensiasi yaitu:
1. bersifat proaktif
2. mengutamakan kualitas daripada kuantitas
3. menggunakan penilaian diagnostik
4. menggunakan pendekatan konten, proses dan
produk
5. berpusat pada murid
6. memadukan pembelajaran seluruh kelas, individual
dan kelompok
7. bersifat organik dan dinamis
Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional
Pada modul 2.2 yang
mengangkat topik Pembelajaran Sosial dan Emosional ini kami mempelajari 5
(lima) kompetensi sosial dan emosional yang terdiri dari kesadaran diri,
manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi,dan pengambilan
keputusan yang bertanggung jawab atau CASEL (Collaborative for Academic and Social
Emotional Learning (1995)). Pembelajaran Sosial dan Emosional sendiri meliputi
5 KSE, lingkungan belajar dan sikap.
Kegiatan KSE antara lain
melibatkan murid membuat keyakinan kelas, memberi kesempatan murid untuk
membaca buku pilihannya, memberikan kesempatan murid-murid untuk merefleksikan
proses pembelajaran,dan lain-lain. Selain itu pada modul 2.2 kami belajar
tentang praktik mindfulness (STOP), piramida K-For-Catanese, Tri Sentra
Pendidikan, dan penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah.
Perkembangan murid
disebut holistik jika mencakup perkembangan intelektual, fisik, emosional,
sosial dan karakter. Pembelajaran Sosial dan Emosional sendiri
adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas
sekolah yang memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah
memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai
5 Kompetensi Sosial dan Emosional. Mulai dari pengajaran secara eksplisit di
kelas hingga kemitraan dengan keluarga dan komunitas untuk terus mengupayakan
proses kolaboratif dan berkelanjutan.
Pembelajaran Sosial dan Emosional berupaya
menciptakan lingkungan dan pengalaman belajar yang menumbuhkan 5 kompetensi
sosial dan emosional yaitu kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial,
keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Pembelajaran 5 KSE tersebut akan dapat menghasilkan murid-murid yang
berkarakter, disiplin, santun, jujur, peduli, responsif, proaktif, mendorong
anak untuk memiliki rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan, sosial, budaya,
dan humaniora. Semua ini selaras dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar
Isi dalam Standar Nasional Pendidikan.
Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah
pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah.
Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di
sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif
mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat:
1.
Memahami, menghayati, dan mengelola emosi (kesadaran diri)
2.
Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)
3.
Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)
4.
Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)
5.
Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang
bertanggung jawab)
Kerangka kompetensi pembelajaran sosial dan
emosional CASEL menggunakan pendekatan yang sistematis yang menekankan pada
pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang tepat serta terkoordinasi untuk
meningkatkan pembelajaran akademik, sosial, dan emosional semua murid. Kesadaran
Penuh (mindfulness) berperan sebagai dasar penguatan 5 (lima) Kompetensi Sosial
dan Emosional. Pada prinsipnya praktik kesadaran penuh merupakan segala
aktivitas yang kita lakukan secara sadar. Apapun bentuk aktivitasnya - yang
ditekankan adalah perhatian yang diberikan saat melakukan aktivitas tersebut.
Meski demikian, terdapat juga praktik-praktik terpadu yang dikemas secara
khusus untuk membantu kita. Praktik paling mendasar dan sederhana adalah
melatih dan menyadari napas. Salah satu teknik melatih napas adalah Teknik
STOP. Teknik ini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, dan tanpa
membutuhkan peralatan. STOP terdiri dari stop,take a breath, observe
and proceed.
Kerangka Pembelajaran Sosial Emosional berbasis
kesadaran penuh dalam mewujudkan kesejahteraan psikologis (well-being)
yang diadaptasi dari piramida K-For-Catanese (dalam Hawkins, 2017) yang
menjelaskan bahwa kesadaran penuh dapat menciptakan kesejahteraan sosial dan
emosional. Kesejahteraan sosial dan
emosi akan membuahkan well-being. Implementasi pembelajaran sosial
emosional di kelas dan sekolah melalui 4 indikator, yaitu: pengajaran
eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik,
penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan pembelajaran sosial
emosional pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Penerapan pembelajaran sosial dan emosional
tidak hanya mencakup ruang lingkup kelas dan sekolah, namun juga melibatkan
keluarga dan komunitas. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan Tri Sentra
(Tiga Pusat Pendidikan) salah satu gagasan Ki Hajar Dewantara yang menerangkan
bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan yaitu, keluarga, sekolah, dan
masyarakat.
Pada Modul.2.3 kami mempelajarai tentang
Kompetensi Inti Coaching seperti kehadiran penuh (presence), mendengarkan aktif,
dan mengajukan pertanyaan berbobot. Kami juga belajar tentang percakapan
perencanaan, percakapan pemecahan masalah, percakapan berefleksi dan percakapan
kalibrasi. Kemudian kami belajar mendengarkan dengan “RASA” yaitu receive,
appreciate, ask dan summarize serta belajar tentang alur TIRTA (Tujuan,
Identifikasi, Rencana Aksi, Tanggung Jawab) dan alur GROW (Goal, Reality,
Options, Will). Last but not least, kami belajar tentang umpan balik berbasis
coaching dengan menggunakan pertanyaan reflektif dan data yang valid dalam
supervisi klinik dan supervisi akademik.
Supervisi akademik ini dilakukan untuk
memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid sebagaimana tertuang dalam
standar proses pada Standar Nasional Pendidikan Pasal 12 yaitu pelaksanaan
pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2) huruf b
diselenggarakan dalam suasana belajar yang:
a.
interaktif;
b.
inspiratif;
c.
menyenangkan;
d.
menantang;
e.
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif; dan
f.
memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai
dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik.
Paradigma berpikir yang memberdayakan mutlak
diperlukan agar pengembangan diri dapat berjalan secara berkelanjutan dan
terarah. Salah satu pendekatan yang memberdayakan adalah coaching sebagaimana
Whitmore (2003) ungkapkan bahwa coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang
untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses
kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis,
dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup,
pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999).
Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi
seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya. Coaching lebih kepada membantu
seseorang untuk belajar daripada mengajarinya. Sejalan dengan pendapat para
ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai “bentuk
kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan
profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan
mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”
Sistem Among, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing
Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, menjadi semangat yang
menguatkan keterampilan komunikasi guru dan murid dengan menggunakan pendekatan
coaching. Tut Wuri Handayani menjadi kekuatan dalam pendekatan proses coaching
dengan memberdayakan (andayani/handayani) semua kekuatan diri pada murid.
Sebagai seorang Guru (pendidik/pamong) dengan semangat Tut Wuri Handayani, maka
perlulah kita menghayati dan memaknai cara berpikir atau paradigma berpikir Ki
Hajar Dewantara sebelum melakukan pendampingan dengan pendekatan coaching sebagai
salah pendekatan komunikasi dengan semangat among (menuntun).
Paradigma
berpikir coaching yaitu:
1. fokus
pada coachee
2. terbuka
dan ingin tahu
3. memiliki
kesadaran diri kuat
4. melihat
peluang baru
Sedangkan
kompetensi inti coaching yaitu:
1. kesadaran
penuh (presence)
2. mendengarkan
aktif
3. mengajukan
pertanyaan berbobot.
Sebagai seorang coach salah satu peran
terpentingnya adalah membantu coachee menyadari potensi yang dimiliki untuk
mengembangkan kompetensi dirinya, dan menjadi mandiri melalui pendampingan yang
mengedepankan semangat memberdayakan. Alur percakapan coaching TIRTA
dikembangkan dengan semangat merdeka belajar yang membuat kita memiliki
paradigma berpikir, prinsip dan keterampilan coaching untuk memfasilitasi rekan
sejawat agar dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat
keputusan-keputusan bijaksana secara mandiri. Hal ini penting mengingat tujuan
coaching yaitu untuk pengembangan diri dan membangun kemandirian. Melalui alur
percakapan coaching TIRTA, kita diharapkan dapat melakukan pendampingan baik
kepada rekan sejawat maupun muridnya. TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Tujuan
Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan
pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee).
2. Identifikasi
(Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan
menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)
3. Rencana
Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)
4. TAnggungjawab
(Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)
Selain alur TIRTA dapat juga memakai alur GROW (Goal, Reality, Options, Will) menggunakan percakapan perencanan,pemecahan masalah, berefleksi atau kalibrasi. Coach perlu mendengarkan coachee dengan RASA yaitu receive, appreciate, ask and summarize. Umpan balik berbasis coaching terdiri dari pertanyaan reflektif dan data valid. Supervisi akademik perlu menggunakan kaca mata dan topi seorang coach agar supervisi akademik menjadi proses berkelanjutan yang memberdayakan.
Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
Pada
modul 3.1 kami belajar tentang materi Pengambilan Keputusan Berbasis
Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin seperti sekolah sebagai institusi moral,
etiket, etika, bujukan moral dan dilema etika, pengujian benar atau salah,
konsep pengambilan dan pengujian keputusan, dan lain-lain.
Sekolah
adalah ‘institusi moral’ yang dirancang untuk membentuk karakter para warganya.
Seorang pemimpin di sebuah institusi atau sekolah akan menghadapi situasi di
mana pemimpin tersebut perlu mengambil suatu keputusan yang mengandung dilema
secara etika, dan berkonflik di antara nilai-nilai kebajikan universal yang
sama-sama benar. Seorang pemimpin hendaknya memahami nilai-nilai kebajikan yang
tertuang dalam visi dan misi sekolah, berkepribadian serta berkinerja baik
dalam melaksanakan tugas kepemimpinan, khususnya dalam mengambil suatu
keputusan, hendaknya setiap keputusan yang diambil tersebut selaras dengan
nilai-nilai kebajikan yang dijunjung tinggi oleh suatu institusi tersebut,
yaitu bertanggung jawab dan berpihak pada murid.
Dalam
menjalankan perannya, tentu seorang pemimpin di sekolah akan menghadapi
berbagai situasi dimana ia harus mengambil suatu keputusan dimana ada
nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar, namun saling
bertentangan. Situasi seperti ini disebut sebagai sebuah dilema etika. Etika
sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno, Ethikos yang berarti kewajiban moral.
Sementara moral berasal dari bahasa Latin, mos jamaknya mores yang artinya sama
dengan etika, yaitu, ‘adat kebiasaan’.
Moralitas
sebagaimana dinyatakan oleh Bertens (2007, hal. 4) adalah keseluruhan asas
maupun nilai yang berkenaan dengan baik atau buruk. Jadi moralitas merupakan
asas-asas dalam perbuatan etik. Istilah lain yang mirip dengan etika, namun
berlainan arti adalah etiket. Etiket berarti sopan santun. Setiap masyarakat
memiliki norma sopan santun. Etiket suatu masyarakat dapat sama, dapat pula
berbeda. Lain halnya dengan etika, yang lebih bersifat ‘universal’ etiket
bersifat lokal (Rukiyanti, Purwastuti, Haryatmoko, 2018). Sedangkan Bujukan
Moral yaitu situasi dimana seseorang harus membuat keputusan antara benar atau
salah.
Prinsip
etika yaitu:
1. Berpikir
berbasis hasil akhir (ended based thinking)
2. Berpikir
berbasis peraturan (rule-based thinking)
3. Berpikir
berbasis peduli (care-based thinking)
Pengujian benar
atau salah yaitu:
a. Uji
Legal
b. Uji
Regulasi atau Standar Profesional
c. Uji
Intuisi
d. Uji
Publikasi
e. Uji
Panutan/Idola
Konsep Pengambilan
dan Pengujian Keputusan yaitu:
1. Mengenal
nilai-nilai yang saling bertentangan.
2. Menentukan
siapa yang terlibat dalam situasi.
3. Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasi
4. Pengujian
benar atau salah
5. Pengujian
paradigma benar lawan benar.
6. Melakukan
prinsip resolusi.
7. Investigasi
opsi trilemma.
8. Buat
keputusan.
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Modul
3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Pada modul 3.2 ini kami belajar tentang pengembangan komunitas berbasis aset (Aset-Based Community
Development/ ABCD). Selain itu kami juga belajar tentang sekolah sebagai
ekosistem yang mana terjadi interaksi antar faktor biotik seperti murid, kepala
sekolah, guru, staf, pengawas sekolah,orag tua, masyarakat, dinas dan pemda
dengan faktor abiotik seperti keuangan, sarana/prasarana dan lingkungan alam.
Kemudian kami masih belajar juga tentang paradigma inkuiri apresiatif yaitu
upaya kolaboratif menemukan hal-hal positif di masa lalu,masa kini dan masa
depan. Karakteristik komunitas yang sehat menurut Bank of I.D.E.A.S (2004)
memiliki ciri:
1. Menghargai keragaman
2. Memperkuat koneksi warga
3. membangun koneksi dan kolaborasi.
4. Melihat kekuatan potensi.
5. Menghasilkan kepemimpin
6. Merangkul perubahan.
7. Membentuk masa depan (visi komunitas)
Ada 7 (tujuh) aset yang dimiliki sekolah diantaranya: modal manusia, modal sosial, modal politik, modal agama dan budaya,modal fisik,modal lingkungan dan modal finansial. (Green dan Haines (2016))
Sebagai sebuah komunitas, sekolah dapat memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya sama seperti komunitas pada umumnya. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki sekolah dapat memanfaatkan konsep yang digunakan pada pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset. Kita dapat meminjam kerangka dari Green dan Haines (2016), yang memetakan 7 aset utama, atau di dalam buku ini disebut sebagai modal utama. Tujuh modal utama ini merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah. Dalam pemanfaatannya, ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain. JIka diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya.
Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).
Pendekatan berbasis aset ini juga digunakan sebagai dasar paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) yang percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan. Menurut Cooperrider & Whitney (2005). Inkuiri Apresiatif adalah suatu filosofi, landasan berpikir, yang berfokus pada upaya kolaboratif menemukan hal positif dalam diri seseorang, organisasi, dan dunia sekitarnya, baik dari masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Merekapun mengatakan bahwa saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang baik dan benar.
Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lainnya.
Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid
Pada Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid, kami belajar tentang student agency (kepemimpinan murid) yaitu kemampuan murid untuk mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, berkontribusi pada komunitas belajar dan lain-lain. Kami juga belajar tentang 4 (empat) sifat inti dari human agency seperti intensi, visi,aksi dan refleksi. Kepemimpinan murid bukan bebas sepeenuhnya tetapi tetap membutuhkan bimbingan guru dan bukan berarti mengganti peran guru. Kepemimpinan murid artinya murid memiliki voice, choice dan ownership. Cara mempromosikan ownership murid dapat dilakukan dengan: memosting ide siswa, memajang pekerjaan-pekerjaan di kelas, melakukan penilaian diri sendiri (self-assessment) dan lain-lain.
Landasan bagi visi sekolah adalah profil pelajar Pancasila (beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong,mandiri,bernalar kritis dan kreatif). Murid “berada” dalam lintas komunitas yaitu: keluarga, kelas/antar kelas,sekolah, sekitar sekolah dan komunitas yang lebih luas. Selain yang tersebut diatas CGP juga belajar tentang Tri Sentra Pendidikan dan karakteristik lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murisd seperti: lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid, lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahamikekuatan diri,lingkungan yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri,dan lain-lain.
Jika kita mengacu pada OECD (2019:5), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat. Konsep kepemimpinan murid sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.
Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak secara aktif, dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menunjukkan agency dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri. Lewat proses yang seperti ini, murid-murid akan secara alamiah mempelajari keterampilan belajar (belajar bagaimana belajar).
Melalui filosofi dan metafora “menumbuhkan
padi”, Ki Hajar Dewantara mengingatkan kita bahwa dalam mewujudkan pembelajaran
yang berpusat pada murid, kita harus secara sadar dan terencana membangun
ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka
sesuai dengan kodratnya. Dengan demikian, saat kita merancang sebuah
program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler,
ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi
pertimbangan utama.
Program/kegiatan intrakurikuler merupakan
merupakan program/kegiatan utama sekolah yang dilakukan dengan menggunakan
alokasi waktu yang telah ditentukan dalam struktur program sekolah.
Program/Kegiatan ini dilakukan oleh guru dan murid dalam jam pelajaran setiap
hari dan ditujukan untuk mencapai tujuan minimal dari setiap mata pelajaran
dalam kurikulum. Sementara itu, program/kegiatan kokurikuler merupakan
program/kegiatan yang dilaksanakan sebagai penguatan atau pendalaman kegiatan
intrakurikuler. Program/kegiatan ini meliputi kegiatan pengayaan mata
pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk
kegiatan lain yang dapat menguatkan karakter murid. Sedangkan program/kegiatan
ekstrakurikuler adalah program/kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik di
luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah
bimbingan dan pengawasan sekolah, dan diselenggarakan dengan tujuan untuk
mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan
kemandirian murid.
Saat murid menjadi pemimpin dalam proses
pembelajaran mereka sendiri (atau kita katakan: saat murid memiliki agency,
maka mereka sebenarnya memiliki suara (voice), pilihan (choice),
dan kepemilikan (ownership) dalam proses pembelajaran mereka. Lewat
suara, pilihan, dan kepemilikan inilah murid kemudian mengembangkan kapasitas
dirinya menjadi seorang pemilik bagi proses belajarnya sendiri.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset
dan Teknologi sendiri, telah mengamanatkan tentang pentingnya kemitraan antara
sekolah dengan orang tua dan masyarakat. Kemitraan ini disebut dengan “Tri
Sentra Pendidikan”. Kemitraan tri sentra pendidikan adalah kerjasama antara
satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat yang berlandaskan pada asas gotong
royong, kesamaan kedudukan, saling percaya, saling menghormati, dan kesediaan
untuk berkorban dalam membangun ekosistem pendidikan yang menumbuhkan karakter
dan budaya prestasi peserta didik. Melalui pemberdayaan, pendayagunaan, dan
kolaborasi tri sentra pendidikan ini, maka keterlibatan yang bermakna dari
orangtua dan anggota masyarakat dalam proses pembelajaran menjadi fokus yang
perlu terus diupayakan oleh sekolah. Sebagai pusat dari proses pendidikan,
murid ‘berada’ dalam lintas komunitas. Mereka dapat berada sekaligus pada:
a. komunitas keluarga (anggotanya dapat
terdiri orang tua, kakak, adik, pengasuh, dsb)
b. komunitas kelas dan antar kelas
(anggotanya dapat terdiri teman sesama murid, guru)
c. komunitas sekolah (anggotanya dapat
terdiri dari kepala sekolah, pustakawan, penjaga sekolah, laboran, penjaga
keamanan, tenaga kebersihan, petugas kantin, dsb)
d. komunitas sekitar sekolah (anggotanya
dapat terdiri dari RT/RW, tokoh masyarakat setempat, puskesmas, tokoh agama
setempat, dsb)
e. komunitas yang lebih luas. (anggotanya
dapat terdiri dari organisasi masyarakat, dunia usaha, media, universitas, DPR,
dsb)
Sebagaimana padi yang hanya akan tumbuh
subur pada lingkungan yang sesuai, maka kepemimpinan murid pun akan tumbuh
dengan lebih subur jika sekolah dapat menyediakan lingkungan yang cocok.
Lingkungan yang menumbuhkembangkan kepemimpinan murid adalah lingkungan di mana
guru, sekolah, orangtua, dan komunitas secara sadar mengembangkan wellbeing
atau kesejahteraan diri murid-muridnya secara optimal. Menyadur apa yang
disampaikan oleh Noble tersebut, maka lingkungan yang menumbuhkembangkan
kepemimpinan murid akan memiliki beberapa karakteristik, di antaranya adalah:
1. Lingkungan
yang menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan
merasakan emosi yang positif.
2. Lingkungan
yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan
bijaksana, di mana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai sosial positif yang
berbasis pada nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah.
3. Lingkungan
yang melatih keterampilan yang dibutuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan
akademik maupun non-akademiknya.
4. Lingkungan
yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta
masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
5. Lingkungan
yang membuka wawasan murid agar dapat menentukan dan menindaklanjuti tujuan,
harapan atau mimpi yang manfaat dan kebaikannya melampaui pemenuhan kepentingan
individu, kelompok, maupun golongan.
6. Lingkungan
yang menempatkan murid sedemikian rupa sehingga terlibat aktif dalam proses
belajarnya sendiri.
7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit di tengah kesempitan dan kesulitan.
Referensi:
Paket Modul Pendidikan Guru
Penggerak,Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi
Cara Menjadi Jawara Swasembada dengan Memilih Jurusan Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB adalah fakultas harapan. B...
0 comments: