Navigation Menu

Pertanian di Kalimantan Menyongsong Masa Depan


Era Revolusi Industri 4.0 telah datang dan menuntut inovasi serta gagasan kreatif kita di berbagai sektor agar roda kehidupan terus berputar. Roda penggerak perekonomian rakyat perlu terus dijaga. Demikian juga tulang punggung ekonomi masyarakat yang banyak bertumpu pada sektor pertanian agar selalu menjadi prioritas utama sehingga tidak menjadi masalah nasional di kemudian hari. Lebih-lebih masalah ketahanan pangan semakin krusial mengingat kebutuhan pangan di masa depan akan semakin membengkak. Di sisi lain para pekerja di sektor pertanian jumlahnya semakin menurun. 

Pertanian yang tidak didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang profesional di sektor pertanian mustahil akan mampu menjawab kebutuhan pangan penduduk yang terus bertambah. Laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur sedangkan laju pertumbuhan pangan seperti deret hitung. Belum lagi luas lahan pertanian semakin menyempit. Untungnya, pemerintah aktif memberi insentif sehingga ketika sektor lain mengalami kesulitan di tengah pandemi Covid-19, pertanian tetap menjadi penyokong perekonomian. Rilis data terbaru pertumbuhan ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian tumbuh tinggi di triwulan II-2020. Produk Domestik Bruto (PDB) di sektor pertanian tumbuh 16,2 persen. Indikator kesejahteraan petani seperti nilai tukar petani (NTP) juga naik tajam. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik 1,44 persen dari bulan sebelumnya menjadi Rp. 4.788.

Petani Indonesia, khususnya yang masih muda sepatutnya tercambuk dan optimis mengembangkan usaha atau berwirausaha dalam bidang pertanian atau agribisnis dengan beragam inovasi. Pertanian 4.0 berada di punggung generasi masa kini karena pertanian zaman sekarang tidak bisa disamakan lagi dengan zaman dahulu. Pertanian 4.0 mesti pertanian yang tanggap alsintan (alat mesin pertanian) dan teknologi digital yaitu dengan menggunakan mesin-mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet. 

Proses bisnisnya akan melibatkan information and communication technology (ICT) dan jaringan internet yang terkoneksi ke semua unit operasi dari berbagai instrumen seperti satelit, drone dan sensor maupun peralatan seperti mesin atau robot. Apabila semuanya bekerja secara sinergis maka akan terjadi peningkatan produktifitas pertanian baik tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, maupun peternakan dengan biaya yang rendah. Pengaplikasian teknologi digital akan meminimalisir biaya produksi dan yang berhubungan dengan proses pemanenan dan pascapanen hingga 60 persen sehingga keuntungan yang didapat petani akan lebih besar. 

Teknologi juga mempercepat proses pertanian seperti pengolahan tanah pertanian, teknologi pembibitan, dan pemutakhiran mesin panen. Praktis, teknologi memiliki peran yang besar dalam intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian Sekarang traktor tidak perlu disetir secara langsung tetapi dapat menggunakan remote atau komputer. Pertanian itu tidak hanya sekadar mengolah lahan, menanam dan memanen tetapi juga mengolah hasil panen hingga bisa dipasarkan dengan cara modern dan inovatif yaitu dengan strategi online atau cash on delivery (COD) sehingga hasil pertanian bisa sampai meja makan. Pemasaran produk memang jauh lebih mudah berkat peran teknologi digital. 

Oleh karena itu, bangsa Indonesia menaruh harapan besar pada generasi muda milenial yang melek teknologi (techno-literate) yang siap melanjutkan tongkat estafet demi kemajuan pertanian di masa depan. Bung Karno pernah berseru: “Pemuda bertani, berarti memilih untuk merdeka”. Pemuda milenial produk vokasi harus bisa masuk ke dunia usaha atau industri pertanian dan harusnya mampu menjadi qualified job creator yaitu menjadi petani mandiri dan membuka lapangan pekerjaan untuk pemuda-pemuda lainnya. Fenomena saat ini semakin banyak pemuda-pemuda Indonesia yang lebih memilih menjadi job seeker (pencari pekerjaan) sebagai pegawai kantoran atau karyawan. 

Kita percaya di kepala pemuda milenial sejatinya tersimpan banyak ide kreatif dan inovatif dalam menghasilkan produk pertanian berdaya saing dan bernilai jual tinggi. Regenerasi pemuda tampan masa kini (baca: petani), masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Indonesia. Menjadi petani berarti menjadi ujung tombak kebutuhan pangan di tanah air Indonesia yang konon lahir dari rahim agraris dan maritim. Profesi petani selayaknya ditempatkan pada posisi terhormat dan terpandang. 

Kita perlu berkaca dari negara maju seperti Jepang, Amerika, Belanda dan Australia dengan profesi petaninya yang selalu menjadi incaran para pemuda. Bahkan tak jarang mereka yang lulus dari jurusan non-pertanian sangat antusias dan berebut ingin menjadi petani. Berbanding terbalik dengan Indonesia dengan para pemudanya yang minder jika harus menjadi petani. Indonesia sebagai negara berkembang belum bisa menyamai China yang juga masih dalam kategori negara berkembang dalam hal kemakmuran petaninya. Penghasilan rata-rata petani di China sekitar 10 jutaan. 


Indonesia pun bisa seperti mereka apabila para pemuda milenial berani membangun desa dengan menjadi pelaku usaha baru. Pemerintah selalu hadir untuk menyejahterakan petani dan meningkatkan produksi. Keberpihakan pemerintah dapat terlihat dari kuatnya bantuan pemerintah seperti melalui program upaya Khusus Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai (Upsus Pajale), subsidi pupuk dan benih, pembuatan embung, perbaikan irigasi, pemberian ribuan alsintan dan asuransi pertanian. Pemerintah juga memiliki inisiatif awal yaitu memperluas lahan 1000 hektar untuk dijadikan korporasi pertanian. Semua dilakukan demi menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, ketersediaan bahan baku industri, daya saing dan kesejahteraan petani. Jika generasi muda masih tetap enggan mengolah lahan-lahan pertanian maka kebutuhan pangan pasti akan disuplai dari luar.


Meski tak banyak namun ibarat oase di gurun pasir masih ada petani milenial dari Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah siap menjadi ujung tombak pembangunan pertanian. Krismen namanya, petani milenial yang sukses mengembangkan budidaya tanaman jagung pakan ternak atau jagung kering pipilan di desanya. Omzetnya sekarang mencapai Rp. 25 juta sebulan. Tanah di Kalimantan memang tidak sesubur pulau Jawa yang memiliki banyak tanah entisol dan grumusol karena memiliki gunung berapi. Selain tanah inceptisol, Kalimantan terdiri dari lahan kering, rawa lebak, lahan irigasi, rawa pasang surut, dan lahan hujan yang membutuhkan sentuhan teknologi agar tidak sekadar menjadi lahan tidur.

Sedangkan tanah aluvial di Kalimantan juga berkurang tingkat kesuburannya. Penurunan kesuburan akibat penambangan batubara dapat diatasi dengan pemberian bahan organik dan introduksi cacing tanah. Banyaknya lahan di Kalimantan yang terbengkalai bahkan menjadi rawan terbakar di musim kemarau menuntut kepedulian para pemuda milenial agar mengikuti jejak Krismen yang telah memulai bisnisnya di bidang pertanian sejak remaja. Bila pemuda-pemuda milenial mau berkiprah dengan teknologi dan mekanisasi mesin serta mengkombinasikannya dengan kearifan lokal pertanian tentu akan tercapai ketahanan pangan nasional yang kuat.

Tanah Barito yang notabene berdekatan dengan calon ibukota negara (IKN) Indonesia yang baru di sebagian Kabupeten Penajam Paser Utara dan sebagian Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur bisa menjadi lumbung pangan. Untuk menuju pertanian masa depan kolaborasi dengan bidang lain (transdisiplin) seperti bidang pariwisata sehingga terwujud agrowisata di tanah Barito merupakan sebuah peluang di tengah masyarakat perkotaan yang semakin modern. Masyarakat perkotaan cenderung menerapkan gaya hidup (life style) ketofastofis dan vegetarian. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan komunitas pengomposan agar senantiasa tersedia pupuk organik demi keberlangsungan pertanian organik. 


Tentu, tangan-tangan pemuda milenial yang adaptif terhadap teknologi yang siap menjadi wirausaha agribisnis adalah kuncinya. Pemuda milenial yang adaptif terhadap teknologi dapat membentuk jejaring kerjasama dengan mitra atau pemangku kepentingan di sektor pertanian dan mengoptimalisasi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) dengan lebih mudah melalui teknologi digital. Akhirnya, peran petani muda masa kini yang berani berlaga di dunia pertanian sangat dibutuhkan dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Ini seirama dengan detak perjuangan Bung Karno bahwa pangan adalah hidup matinya suatu bangsa. Bung Karno yang begitu memahami hal itu kemudian meletakkan batu pertama Fakultas Pertanian Universitas Indonesia yang berganti nama menjadi Institut Pertanian Bogor dan bukan Institut Perbankan Bogor, Institut Pewartaan Bogor, atau Institut Pesantren Bogor seperti yang (justru) diplesetkan oleh pemuda milenial Indonesia sendiri. Sarkastik!

Membangun Optimisme Perumahan Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

(Tinjauan Analitis-Solutif Peran Pembuat Kebijakan dalam Membantu Keluarga Menengah ke Bawah Indonesia Memiliki Rumah Pertama)
Oleh: YOGYANTORO
Foto: Kementerian PUPR
       Foto: Kementerian PUPR
Indonesia menggeliat. Contoh kasus dari pembangunan infrastruktur termasuk properti residensial atau perumahan begitu masif di seluruh Nusantara. Kebutuhan rumah baru mencapai 800.000 unit per tahun, sementara itu kapasitas yang dimiliki pengembang (developer) hanya berkisar 250.000 – 400.000 unit per tahun. Berdasarkan Susenas Maret 2015, masih terdapat sekitar 11,38 juta kepala keluarga yang belum memiliki rumah. Hal ini menunjukkan adanya peluang bisnis perumahan yang terbuka lebar.
Foto: Dokumen pribadi

Foto: Dokumen pribadi

Menurut Survei Harga Properti Residensial Pasar Primer BI, saat ini hampir 75 % konsumen memanfaatkan fasilitas KPR (Kredit Pemilikan Rumah) sebagai sumber pembelian properti dan hanya 17,62 % yang melalui jalur tunai bertahap sedangkan sisanya dengan pembelian secara tunai. Pengembang lebih banyak mengandalkan dana internal perusahaan yang mencapai 56 % untuk pembangunan properti residensial yang mayoritas berasal dari modal yang disetor. Pinjaman bank yang dilakukan oleh pengembang berkisar 23 % dan dana yang berasal dari nasabah sekitar 5,68 % sisanya merupakan pinjaman LKNB (Lembaga Keuangan Non Bank) dan lainnya.
Namun kita tidak bisa menutup mata adanya rantai persoalan perumahan nasional yang belum menemukan titik temu. Lahan untuk perumahan nasional dengan lokasi yang baik tidak banyak tersedia. Masalah harga juga masih menjadi benang kusut yang belum terurai mengingat biaya perijinan yang melangit, bahan bangunan yang dijual dengan harga komersial serta berbeda-beda di tiap daerah ditambah urusan birokrasi yang relatif panjang. Belum lagi mayoritas pembiayaan lebih fokus pada KPR kelas menengah atas. Bagaimana dengan kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang memiliki mimpi memiliki rumah?
Foto: Dokumen pribadi

            Foto: Dokumen pribadi
Memang pada masyarakat kelas menengah ke bawah terutama yang tergabung dalam kelompok “nyaris miskin” terjadi penurunan daya beli seiring dengan turunnya penghasilan riil mereka. Yang muncul kemudian adalah bayang-bayang kesenjangan yang memperlihatkan kondisi memburuk. Laporan terbaru dari Credit Suisse menampakan 1 % orang terkaya di dunia kini menguasai lebih dari setengah kekayaan global. Sedangkan di Indonesia sebanyak 49 % dari total kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1 % warga terkaya dan 51 % sisanya diperebutkan oleh 99% penduduk.
Lembaga Oxfam juga menyebutkan bahwa harta total 4 orang terkaya di Indonesia, yang tercatat sebesar 25 miliar dolar AS, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang termiskin. Hal ini juga terhubung langsung dengan penyembunyian harta di negara surga pajak dengan lonjakan harta para miliarder.  Elias dan Turpin (1994, p.5) menulis, “ the presence of social injustice… and structural violence (in the form of) economic deprivation, social neglect, and racial or class injustices… provides not only the immediate violence of repression and oppression bur also the breeding grounds for the development of war or other direct violence such as crime”. Menyikapi masalah kesenjangan ekonomi yang berpotensi pada tindakan kriminal atau masalah keamanan atau ketidakadilan kelas dalam polemik perekonomian, para ekonom pada dekade-dekade sebelumnya cenderung menggunakan pendekatan dengan menggenjot pertumbuhan ekonomi karena keadilan akan tercapai sebagai konsekuensi logis dari pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Seiring dengan dengan pertumbuhan ekonomi suatu negara maka kekayaan akan mengalir pada keluarga-keluarga berpenghasilan menengah ke bawah melalui mekanisme laissez-faire yaitu mengurangi campur tangan pemerintah dan menyerahkan segala kegiatan ekonomi yang lebih bebas pada pasar. 
Ini artinya para pembuat kebijakan hanya perlu berfokus pada penguatan produktivitas, surplus perdagangan dan penyediaan lapangan pekerjaan untuk mendorong pertumbuhan. Kabar gembiranya adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren yang meningkat setelah mencapai level terendah pada 2015, yang didorong oleh investasi dan ekspor, serta konsumsi yang stabil. Investasi diprediksi tetap tinggi terutama dukungan dari investasi proyek infrastuktur dan bangunan swasta. Dari segi ekspor dan impor juga tetap tumbuh. Perbaikan ekonomi global menumbuhkan ekspor manufaktur meskipun terjadi penurunan ekspor komoditas, khususnya CPO. Kuatnya permintaan domestik mendorong pertumbuhan impor, khususnya barang modal dan bahan baku. Praktis, sumber pertumbuhan global bergeser ke negara berkembang seperti Indonesia karena negara maju mengalami sedikit perlambatan.
Jika dilihat secara sektoral, industri yang tumbuh tinggi memiliki penyerapan tenaga kerja yang minim dan inilah yang berpengaruh pada daya beli masyarakat terutama kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu secara sektoral, sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja yang besar seperti sektor perumahan harus di-trigger untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih tinggi. Sektor perumahan atau properti akan membawa dampak positif yang signifikan dalam upaya membangkitkan perekonomian.
Foto: Dokumen pribadi
     Foto: Dokumen pribadi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia khususnya dan kawasan pada umumnya, menunjukkan kondisi yang stabil. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga tetap terjaga soliditasnya karena adanya perbaikan pendapatan dan inflasi yang terkendali. Konsumsi rumah tangga yang terjaga yang ditopang oleh investasi yang tetap kuat berhasil menjadi udara segar bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Maka tidak heran apabila Indonesia kini mampu menjadi salah satu kekuatan ekonomi global dan mendapat anugerah berupa kesempatan untuk menunjukkan kepemimpinan dan kapabilitasnya dengan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 yang sekaligus menjadi ajang pertaruhan nama baik Indonesia. Asian Games 2018 mempertandingkan 40 cabang olahraga yang diselenggarakan di Palembang dan Jakarta. Benar-benar menjadi daya tarik baru mengingat sepanjang tahun penyelenggaraannya, baru Asian Games 2018 yang penyelenggaraannya berada di 2 kota secara bersamaan.
Krisis Asia tahun 1998 dan krisis keuangan global tahun 2009 yang terlewati dengan baik sebetulnya  telah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia telah berhasil melakukan reformasi dalam membangun kekuatan yang berkelanjutan dan daya tahan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia (inclusive growth) bukan saja stabil dan kokoh melawan badai tetapi juga merata. Menyaksikan euforia perekonomian Indonesia yang begitu reformed, resilient, dan progressive yang mendapat dukungan dari sarana infrastruktur serta fasilitas yang memadai, dinamika politik yang stabil terkait pemilihan presiden 2019 dan kondisi keamanan yang kondusif maka tidak begitu mengejutkan jika Indonesia juga berhasil terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan keuangan terbesar di dunia, IMF-World Bank Annual Meetings (AM)  2018 yang bertempat di Nusa Dua, Bali, pada 12 – 14 Oktober 2018.
Menyambut tamu yang berjumlah 15.000 orang dari berbagai belahan dunia yang terdiri dari para pejabat pembuat kebijakan dari berbagai negara, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari 189 negara anggota IMF, ekonom dan akademisi, pimpinan perusahaan dan investor terkemuka, think tank, partisipan dari industri kekuangan, anggota  parlemen, perwakilan LSM, media, delegasi pertemuan dan partisipan lainnya adalah kesempatan emas untuk mengasah leadership Indonesia sebagai penyelenggara international event dalam membahas isu-isu global sekaligus menjadi ajang untuk menunjukkan persepsi positif tentang Indonesia sebagai sebuah negara yang besar.
Foto: Dokumen pribadi
Foto: Dokumen pribadi
Akhirnya, menggali lagi sejarah besar Indonesia yang telah berhasil mendatangkan dunia ke Indonesia dengan menjadi penyelenggara KAA 1955, tuan rumah Asian Games ke-4 pada tahun 1962 di Jakarta dan berkaca pada gegap gempita Indonesia yang berhasil menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dan AM 2018 maka harapan Indonesia mampu menjadi tuan rumah Piala Dunia tidaklah terlalu utopis. Sebagaimana keluarga-keluarga baru Indonesia agar tetap optimis bahwa di tengah badai krisis multisektor akibat pandemi Covid-19 mimpi memiliki rumah pertama akan menjadi nyata dan siap menjadi penjamu tamu yang baik. Selamat Hari Perumahan Nasional 2020. Semoga iklim properti semakin produktif dan percepatan pembangunan Program Sejuta Rumah dapat sukses memenuhi hak rakyat akan rumah layak.

   *Penulis adalah Guru SMPN 4 Muara Teweh.  Peminat masalah sosial, ekonomi dan pendidikan

Bahasa, Kemerdekaan, dan Jepang

Oleh: YOGYANTORO* 


“Siapa nama kau, nak?” tanya seorang wanita kepada bocah disampingnya. “Namaku Lintang dari Kayu Pelumbang, Bu. Aku nak sekolah” jawab bocah itu. Sementara itu di tempat lain Ikal bertanya pada umaknya. “Aku pakai sepatu ini, umak?” Wanita yang dipanggil umak itu menimpali “Sudahlah pakai aja itu dulu, nanti kalo ada rezeki umak belikan yang baru.” Ekspresi yang sederhana dari anak-anak yang mengutarakan keinginan dan menginginkan kebebasan tergambar secara kasat mata dari tokoh Lintang dan Ikal dalam petikan naskah drama Laskar Pelangi.

Tokoh Lintang dengan bahasa lisannya dalam film Laskar Pelangi sangat ekspresif ditambah mimik, gerakan tubuh dan intonasi yang ingin meyuarakan keinginannya untuk bisa bersekolah. Lintang sebagai komunikator telah membuat komunikan yaitu orang yang diajak berbicara dalam hal ini tokoh Bu Mus sebagai pihak penerima pesan dalam proses komunikasi menjadi tergerak hatinya. Selain menggunakan bahasa lisan, seseorang bisa juga menggunakan bahasa tulis yang terdiri dari susunan simbol atau huruf yang dirangkai menjadi kata bermakna yang dituliskan sebagi alat untuk mengekspresikan tujuan dan identitas diri. 

Bahasa menurut Harun Rasyid, Mansyur dan Suratno (2009:126) merupakan struktur dan makna yang bebas dari penggunanya,sebagai tanda yang menyimpulkan suatu tujuan. Siapapun bebas berbicara dan menyuarakan pendapatnya menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah atau tata cara berbahasa yang baik. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KKBI) kata bebas memiliki arti 1. lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa). 2. merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing). Ikal dalam Laskar Pelangi belum merasa bebas dengan kondisi sepatunya yang lusuh, dan berwarna pink. Ikal belum merdeka. 

Merdeka artinya bebas dari penjajahan, perhambaan dan sebagainya. Kemerdekaan adalah kebebasan yaitu kebebasan dalam memilih, kebebasan berekspresi, kebebasan dalam berkarya, kebebasan dari keterkungkungan, atau kebebasan mencinta. Setali tiga uang dengan puisi Sapardi Djoko Damono, guru besar dan sastrawan alumnus UGM dalam lirik puisinya: aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Pun, Muhammad Ali, petinju legendaris meneriakkan kebebasan melalui bahasa puisinya yang berjudul Freedom-Better Now yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Kebebasan”.

Bahasa memiliki energi yang besar dalam menyuarakan kebebasan. Bahasa pidato Bung Tomo -merdeka atau mati!- yang begitu membakar berhasil menjadi mesin penggerak semangat yang ampuh bagi arek-arek Suroboyo melawan serangan pasukan Inggris. Pidato Sang Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno, mengiringi pecahnya perang melawan penjajah sedahsyat pidato We Shall Fight on the Beaches oleh Winston Churchil yang mampu menyulut Perang Dunia II. Perang Sipil di Amerika Serikat berhasil diredam dengan pidato Gettysburg-nya Abraham Lincoln. Demikian juga pidato Tear Down the Wall oleh Ronal Reagan menandai berakhirnya Perang Dingin. Bahasa mampu menjadi api pembakar sekaligus menjadi air kehidupan yang tenang menyejukkan. 

Bahasa adalah aset dari sebuah pembebasan, keperkasaan dan perekat persatuan. Setelah reformasi 1998, kebebasan berpendapat adalah hak istimewa (privelese) bagi warga negara Indonesia dan merupakan hak asasi manusia yang tertuang dalam deklarasi universal perserikatan bangsa-bangsa (PBB). Indonesia sebagai negara yang menganut sistem demokrasi perlu menegakkan pilar demokrasi salah satunya dengan memberikan ruang bagi kebebasan pers. Bahasa menjadi wahana berkomunikasi yang bebas tentang dunia bisnis, hukum, politik, pendidikan, budaya, humaniora, pariwisata, seni dan sebagainya. Hal ini kemudian bisa membawa sebuah negara tumbuh secara dinamis dalam percaturan global. Menurut Sunaryo (2000:6), tanpa adanya bahasa termasuk bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta kebudayaan nasional tidak akan mampu berkembang. Selain itu bahasa dapat menjadi jembatan antarbudaya dan antarsuku yang memiliki latar belakang budaya dan kehidupan sosial yang beragam. Warga masyarakat dari berbagai daerah dapat bebas berbaur berkat adanya alat penghubung yang menyatukan yaitu bahasa. 

Alat komunikasi dan perhubungan nasional di negara Indonesia adalah bahasa Indonesia. Kepak sayap bahasa Indonesia telah membahana menembus berbagai belahan dunia. Bahasa Indonesia mempunyai penutur terbanyak di kawasan Asia Tenggara dan menjadi bahasa resmi pada sidang ASEAN. Radio siaran internasional, seperti Radio Australia, BBC, Suara Amerika (Voice of America), Al- Jazeera, France24 dan Radio Belanda memiliki acara rutin berbahasa Indonesia. Lebih dari 45 negara di dunia yang mempelajari bahasa Indonesia atau memasukkan bahasa Indonesia ke dalam kurikulum pendidikan mereka. 

Jepang adalah salah satu dari lima negara di dunia yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran wajib. Tokyo Gaikugo Daigaku (Tokyo University of Foreign Studies) yaitu salah satu kampus terbaik yang khusus untuk mempelajari bahasa di Jepang telah mengajarkan bahasa Indonesia sejak tahun 1922. Bahasa Indonesia dimasukkan ke dalam program Kajian Asia Tenggara dan dipelajari sebagai bahasa asing kedua setelah bahasa Inggris. Selain itu beberapa perguruan tinggi lain di Negeri Sejuta Burung Gagak seperti Universitas Kajian Asing Osaka, Universitas Setsunan, Universitas Tenri dan Universitas Sango Kyoto juga membuka degree dengan jurusan bahasa Indonesia. Namun tidak sedikit warga Jepang yang belajar langsung ke Indonesia. 

Banyak orang Jepang yang berminat mempelajari bahasa Indonesia karena semakin meningkatnya hubungan ekonomi dan kebudayaan antara Indonesia dengan Jepang. Bahkan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tokyo menginisiasi sebuah program yaitu lomba pidato Bahasa Indonesia bagi warga Jepang sejak tahun 2007 dan rutin dilaksanakan setiap tahun. Bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional apabila warga negara Indonesia mau menjunjung tinggi bahasa sendiri dan tetap membumi dengan bahasa ibu sebagai bahasa daerah. Siapkah kita menjadi penutur yang berbudaya, beradab dan merdeka? 

*Pendidik, Peserta Program Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Negara Tujuan Jepang, Kemdikbud 2019 dan Nomine Pemenang Lomba Jurnalistik, Kemdikbud 2019.

Sego Gegog, si Pemilik Rasa Pedas yang Jengkar dari Bontot di Ladang Menjadi Bintang di Angkringan

Oleh: YOGYANTORO



Namanya adalah nasi gegog atau sego gegog yang merupakan akronim dari sego genem godhong gedhang. Artinya, nasi yang dibungkus menggunakan daun pisang. Menu tradisional ini ikut meramaikan belantika kuliner di kota gaplek, julukan kota Trenggalek menyusul kakak seperguruannya yaitu nasi thiwul yang lebih dahulu melegenda. Nasi gegog dibuat dari nasi aron dengan ciri khas nasinya yang punel. Cita rasa pedasnya yang menggelora sekaligus bikin kangen berasal dari cabai plintir kering yang dicincang bersama bawang merah, bawang putih, dan ikan teri jengki atau teri kawat. Daun salam, lengkuas yang dimemarkan, garam dan gula dapat ditambahkan untuk meracik rasa agar lebih menggoyang lidah. Untuk menjaga agar tetap kaku dan keras, teri tidak perlu direndam sebelum dimasak.

Sumber : Dokumen Pribadi


Teri jengki pedas yang menyertai nasinya kemudian dibungkus daun pisang dan disematkan dengan lidi seperti membuat botok. Porsinya setali tiga uang dengan satu kepel nasi kucing yang biasa dijumpai di angkringan. Sebelum dibungkus bersama sambal teri nasi ditanak setengah matang. Lalu kembali dimasak dengan menggunakan tungku tradisional dan menggunakan bara api dari kayu-kayu hutan. Aroma harum khas dan gurih merindunya akan membangkitkan selera siapa saja dari beragam kalangan dan kasta, dari rakyat jelata, pegawai menengah hingga para pejabat di pemerintahan atau birokrasi. Semuanya gandrung untuk sekadar merasakan pedas spesialnya. Bahkan rasa pedas dari sego atau nasi yang lahir di kota kecil yang pernah dihapus dari peta secara administratif oleh pemerintah Belanda ini mampu berkhasiat sebagai obat sakit kepala dan influenza. 

Sego gegog makin nikmat disajikan dengan menu lauk seperti tempe goreng, tahu bola goreng, sate telur puyuh, sate usus, atau sate jerohan. Pembeli juga dapat memilih varian nasi gegog ikan tuna atau nasi gegog dari beras merah. Teh setengah panas dapat menjadi pilihan tepat untuk minumannnya. Menyesap teh setengah panas sembari merasakan udara dingin alami di kawasan pegunungan tempat komplek angkringan atau warung penjaja nasi gegog akan menjadi pengalaman indah. 


Destinasi wisata kuliner ini memang berada di dataran tinggi Puncak Ngares dan di kawasan pegunungan kecamatan Bendungan. Diperlukan sekitar lima belas menit perjalanan dari Alun-alun kota Trenggalek menuju sentra nasi gegog di bagian utara Trenggalek. Para pemburu sego gegog harus berkompromi dulu dengan topografi wilayah berlatar agraris dan siap mendaki gunung dan menuruni lembah untuk bisa mencicipi bintang angkringan dari kota yang termahsyur dengan tempe kripik ini. Pepohonan pinus yang hijau meranau di kiri kanan jalan menawarkan pemandangan segar nan asri. Saat ini nasi gegog telah mengepakkan sayap dengan merambah daerah-daerah seperti kaki Gunung Wilis dan beberapa kabupaten sekitarnya seperti Ponorogo yaitu daerah Pulung dan kabupaten Tulungagung. 



Warung Mbah Tumirah yang berlokasi di pertigaan jalan desa Srabah, kecamatan Bendungan sangat populer sebagai jujugan para penggemar sego gegog. Mbah Tumirah yang kini usianya sekitar 80-an lebih adalah pelopor nasi gegog. Bisnis ini sudah ada sejak dahulu kala dan diwariskan secara turun temurun. Warung Mbah Tumirah sendiri sudah berjalan selama lebih dari 30 tahun. Sebungkus nasi gegog dibanderol dengan harga yang sangat bersahabat dengan kantong kita yaitu dari harga Rp. 1.500,00 hingga Rp. 3.500,00. Dua bungkus sego gegog sudah cukup membuat perut Anda kemlekaren atau kekenyangan. 



Dahulu sego gegog adalah bekal (bontot) para petani yang hendak pergi berkebun atau berladang mengolah lahan di kawasan hutan pegunungan di kecamatan Bendungan. Mayoritas warga pegunungan berangkat ke kebun sebelum matahari muncul di ufuk timur sehingga nasi gegog menjadi pilihan bontot yang enak, praktis dan cepat dalam pembuatannya. Bekal wong gunung yang bercita rasa menggoda ini kini telah bermetamorfosis menjadi primadona angkringan di kota alen-alen, Trenggalek. Anda boleh mencobanya. #KulinerJuaraKampungHalaman #BelangaIndonesia #GoodIndonesianFood




***

Mencetak Generasi Emas di Periode Emas (Golden Period)

Bagi kami, 1000 hari pertama ananda melihat dunia dan satu jam ananda berada dalam rahim adalah masa keemasan yang paling berharga untuk kami sebagai orang tua mengambil peran. Pada masa ini sel-sel otak mengalami perkembangan mencapai 80 %. Perkembangan fisik, mental bahkan spiritual bayi mulai terbentuk pada masa ini. Pola asuh adalah kunci pertama dan utama untuk menumbuhkan karakter sang buah hati. Oleh karena itu pemberian stimulasi atau rangsangan yang mencakup aneka sistem indra seperti pendengaran, perabaan, pembauan, penglihatan dan pengecapan harus dilakukan secara terintegrasi dan simultan. 


Kami sebagai orang tua merancang pola asuh sebagai agenda utama dengan senantiasa memberikan dukungan dan menjadi fasilitator yang siaga 24 jam. Kami percaya bahwa pada dasarnya cetak biru (blue print) bayi telah terbentuk secara alami dari orang tuanya namun pemberian alam tersebut akan sirna jika kita tidak mengambil peran. Proses pertumbuhan otak yang mengeluarkan cabang-cabang serat saraf perlu distimulasi sehingga kemampuan komunikasi seluruh sistem saraf pusat akan menjadi kuat. Sebaliknya jika kurang mendapat stimulasi akan melemahkan jalur-jalur saraf bayi sehingga bisa melemah atau mati. 


Ronald Ferguson, profesor di Universitas Harvard dan direktur Achievement Gap Initiative menekankan pentingnya orangtua yang responsif terhadap emosi bayi. Kasih sayang adalah sebentuk bukti cinta dan kebutuhan paling dasar yang sangat dinantikan oleh bayi. Stimulasi mental yang dibutuhkan diantaranya adalah selalu mendekatkan wajah kita sebagai orangtua kepada bayi mungil anak kita. Kita bisa berinteraksi secara visual dengan bayi kita melalui ekspresi wajah yang menarik, penuh senyum, sesekali mengenalkan ekspresi kaget, menangis, tertawa atau memainkan lidah kita untuk menarik perhatiannya. Mengikuti irama emosi bayi akan memberikan sensasi kedekatan dan kehangatan yang akan menciptakan iklim yang baik bagi bayi dalam mengembangkan kecerdasan emosional dan kepercayaan bayi terhadap lingkungannya. 

Selain itu kekuatan cinta kasih dapat disalurkan orangtua kepada bayinya dengan stimulasi taktil seperti memegang, menimang, mengangkat, memeluk, mengurut, mengguncang lembut, menepuk atau mengajaknya bicara. Mendongeng dengan wajah yang ekspresif untuk bayi kita sangat dianjurkan. Meskipun masih berusia dibawah dua tahun, dongeng untuk bayi dengan kata-kata yang tepat, nyata dan jelas akan merangsang indra pendengarannya. Rajin-rajinlah berbicara dengan bayi kita agar bisa cepat berbicara dengan kosa kata yang beragam karena otaknya menyerap perbendaharaan kata yang melimpah seperti spons. Bayi pada usia emas yaitu 1000 hari pertama adalah peniru terhandal. 

Otak bayi seperti tape recorder yang akan menyimpan lirik lagu-lagu anak yang biasa kita nyanyikan asalkan dengan suara dan nada yang jelas. Pernahkah Anda mencoba make silly noises atau mengajaknya bermain sembunyi-sembunyian, cilukba atau play peek – a boo? Itu semua adalah contoh pendekatan yang disukai bayi dan berdaya untuk tumbuh kembang yang seimbang antara fisik dan psikososial bayi. Anda juga dapat menggunakan benda-benda yang menimbulkan suara gemerincing, alunan musik, atau bel mainan dan bersiaplah memberikan respon emosional yang positif terhadap setiap refleks bayi. Marah, sebal, bosan adalah respon emosional yang negatif yang akan menimbulkan rasa takut dan menghilangkan kepercayaan diri bayi. 

Menjalin hubungan yang erat, mesra dan hangat adalah syarat mutlak yang perlu dikombinasikan dengan pola asuh provision structure yaitu konsistensi dan pembiasaan yang meliputi ketepatan waktu makan, tidur dan mandi. Jangan sampai si kecil melihat adanya inkonsistensi seperti adanya nilai dan norma yang bertentangan antara yang diterapkan oleh kakek, nenek, ayah, ibu atau pengasuh (pengganti ibu). Si kecil tentu akan bingung mengikuti aturan yang mana, bukan? Si kecil bisa kehilangan arah atau pedoman sehingga terampas rasa aman (emotional security) yang membawa dampak pada fisik, sosial, dan mental atau mengalami sindrom deprivasi maternal. 

Masing-masing bayi itu terlahir cerdas, unik dan memiliki karakter yang khas. Kita sebagai orang tua bertanggung jawab mengembangkan kecerdasan dan bakat atau keunikan buah hati kita sedini mungkin terlebih-lebih pada 1000 hari pertama ananda yang merupakan golden period. Ayah dan Bunda pemilik buah hati yang unik dapat mengikuti jejak kami menjadi supporter dan fasilitator untuk menemukan dan mengembangkan kecerdasan si kecil. Kecerdasan si kecil bisa sangat berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Ada yang memiliki kecerdasan linguistik, matematika, visual-spasial, musical, kinestetik dan lain sebagainya. Karakter bayi pun sangat beragam seperti ada yang peka, manis, kurang “manis”, ekspresif, pendiam atau cool. Namun sebetulnya mereka semua luar biasa dan cerdas sebagai mana yang diungkapkan oleh Howard Gardner, psikolog dari Universitas Harvard bahwa semua anak adalah anak cerdas. Kita sebagai orang tua tidak perlu membanding-bandingkan. 

Akhirnya tulisan ini penulis tutup dengan pepatah: “If your plan is for one year plant rice. If your plan is for ten years plant trees. If your plan is for one hundred years educate children” yang maknanya adalah, jika rencana hidup kita untuk satu tahun maka tanamlah padi. Jika rencana hidup kita untuk sepuluh tahun maka tanamlah pohon. Jika rencana hidup kita untuk sepanjang masa maka asuhlah anak kita. Semoga bermanfaat!
#1000HariPertamaAnanda

***

Gending Keluarga dalam Surat Kecil untuk Tuhan

(The Quintessence of Education)


Oleh: Yogyantoro
Penulis adalah guru SMPN 4 Muara Teweh,
alumnus Universitas Negeri Malang



“ Tuhan, aku merindukan ayah dan ibuku/ Aku hanya punya seorang kakak yang selalu menjagaku/ Aku ingin selalu bersamanya/ Jangan pisahkan kami Tuhan”.


Foto : www.wowkeren.com
Sebuah film drama keluarga yang diadaptasi dari novel karya Agnes Danovar, dan digarap oleh seorang director, Fajar Bustomi. Film yang dirilis pada 25 Juni 2017 yang lalu dengan running time (durasi) 127 menit ini mengetengahkan kezaliman endemik di ibukota yang mengeksplorasi perspektif anak jalanan dengan menampilkan suatu sindikat yang memanfaatkan anak-anak terlantar menjadi mesin uang. Skenario film tentang pengorbanan sang kakak, Anton (diperankan oleh Bima Azriel) yang bertahan hidup sebagai anak jalanan dan perjuangan seorang adik, Angel (diperankan oleh Izzati Khanza) yang berusaha untuk menemukan kembali masa lalunya yaitu seorang kakak yang dulu selalu menjaganya, setelah guratan nasib secara tragis memisahkan mereka berdua ini ditulis oleh scriptwriter, Upi Avianto. Angel dewasa yang diperankan oleh Bunga Citra Lestari kemudian berhasil menjadi sarjana hukum di Australia dan bertunangan dengan Martin, seorang kardiolog yang diperankan begitu kharismatik oleh Joe Taslim. Menggarap rentang waktu yang panjang, tokoh-tokoh yang sudah lama berpisah bertemu lagi.


Surat Kecil Untuk Tuhan versi 2017 diproduksi oleh Falcon Pictures selaku rumah produksi dengan didukung para pemain yang turut berperan yaitu Teuku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Maudy Kusnaedi, Aura Kasih dan Ben Joshua. Tahun 2011 buku pertama Agnes Donovar telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama bercerita tentang seorang gadis yang berjuang melawan kanker ganas di wajahnya. Latar belakang anak jalanan kini menjadi obyek satire dalam film ini yaitu tentang masalah sosial yang menimpa mereka. Latar belakang anak jalanan yang diangkat keluarga di Australia ini memang mirip dengan film Lion (2017), film peraih nominasi Oscar. Bedanya adalah Surat Kecil untuk Tuhan telah terjebak pada sentimentalisme yang berkepanjangan. Film ini akhirnya juga kurang otentik dengan gagasan-gagasan yang baru. Namun mengangkat gagasan brillian berdasarkan ilham dari salah satu masalah besar bangsa Indonesia patut mendapatkan apresiasi two thumbs. Gagasan tentang eksploitasi anak, perdagangan anak dibawah umur, dan organ tubuh illegal memang seharusnya diangkat ke permukaan dan di blow-up oleh berbagai media.

Film ini telah begitu peka menunjukkan proyeksi dari sekian banyak anak-anak terlantar sebagai sebuah gejala sosial yang paling rawan. Meskipun rada berlebihan, melodrama di dalamnya bisa menjadi sangat instrumental dalam memancing kesadaran. Sayup-sayup film ini diinsinuasikan kepada negara kita sekarang. Di negara kita segala sesuatu telah diatur oleh undang-undang. Pasal 34 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Satu hal yang kasat mata adalah masih banyaknya anak-anak mengamen, mengasong, mengemis bahkan mencopet di sepanjang jalan, terminal, lampu merah, kolong-kolong jembatan dan hampir seluruh persendian ibukota.

Memang sangat tematis bahwa kehidupan anak-anak jalanan itu begitu destruktif dan nilai-nilai moral menjadi luntur. Kosmos tentang kehidupan anak jalanan ditampilkan dengan utuh sampai pada adegan anak kecil yang dibedah hidup-hidup off screen dan kita bisa melihat reaksi orang dewasa yang muntah menyaksikan crime thriller yang membuat merinding bulu kuduk. Sayangnya crime thriller dan adegan-adegan kekerasan yang membumbui keseluruhan tone film yang terkesan cengeng tersebut tidak dibarengi dengan gelegar megah musik motivasional yang menegarkan dan menguatkan seperti dalam film Lion. Adegan anak-anak yang menangis dibawah guyuran air hujan dan color grading yang monoton mendung di awal kisah juga terkesan klise dan kurang kreatif dalam memetik heartstring kita. Sebuah pendekatan yang biasa muncul dalam cerita-cerita sinetron. Tone yang diolah seharusnya menjadikan film ini drama yang secara natural memberikan ruang untuk thought-provoking. Alih-alih film ini telah menjadi begitu emosional.

Pada dasarnya film ini tidak hiper-realisme. Fajar Bustomi selaku sineas dan nahkoda film mampu menyiasati kependekan ruang film dengan mengambil adegan-adegan singkat tetapi lugas yang justru berdaya kuat menonjolkan hakiki. Landscape pengambilan gambarnya menjangkau hal-hal terkecil. Jika penyisipan cityscape dan timelapse tidak terlalu over akan membuat film ini makin stunning secara visual. Menerjemahkan novel ke dalam film memang bukan pekerjaan mudah. Novel bisa dengan leluasa memperkenalkan tokoh-tokohnya. Sedangkan film terbatas oleh running time. Penyingkapan karakter antagonisnya misalnya, seharusnya dapat dilakukan dengan lebih efisien. Sosok Om Rudy sebagai pemimpin sindikat anak jalanan yang diperankan oleh Lukman Sardi, dengan beberapa shoot saja seharusnya bisa menyingkap sosoknya dan pergeseran state of mind antagonisnya. Samar namun memberi isyarat-isyarat yang pasti maka terjadilah semacam penelanjangan diri pada tokoh tersebut. Film ini kemudian menyerupai style sinetron-sinetron Indonesia bahwa yang jahat menjadi benar-benar jahat dan yang baik menjadi benar-benar baik. Terlalu hitam putih dan porsi drama yang terlalu di-amplify menjadikan film ini kurang natural.

Di balik kelemahan penggunaan bahasa Angel dewasa (Bunga Citra Lestari) yang kurang men-develop accent Australian-English dan penggunaan bahasa hukum yang kaku sebagai seorang sarjana hukum yang besar di Australia atau lantaran film Indonesia yang cukup sulit menemukan aktor anak kecil yang mampu bermain dengan meyakinkan, dan juga akhir cerita yang mudah ditebak karena banyaknya clue-clue yang tersusun sistematis, film ini telah mengajarkan kepada kita tentang tentang the quintessence of education yang telah dikumandangkan oleh Bapak-bapak pakar pendidikan di masa lalu seperti Ki Hajar Dewantoro, Sigmund Freud, Engkoe Mohammad Syafei, Han Feizi dan Machiavelli. Meskipun kita layaknya pelari yang tidak mengenal medan dan terseok-seok kehabisan tenaga tapi kita harus tetap berjuang menuju garis finish. Surat Kecil untuk Tuhan baik versi 2011 dan 2017 ini membangunkan kembali 4 (empat) esensi pendidikan yaitu penguasaan kemampuan akademik dasar, kemampuan unik tiap individu, self help problem solving dan tetap survive in relationship with fellow humans and nature. Angel dan Anton dalam film ini menjadi refleksi orang yang mampu survive menghadapi kenyataan hidup yang mendera mereka.

Music scoring berupa paduan suara Purwacaraka yang menyayikan lagu-lagu anak diiringi dengan orkestra yang begitu gagah dan chemistry solid serta subtil antara Ningsih yang diperankan oleh Aura Kasih dan Rifnu Wikana sebagai Asep telah menjadi scene stealer tersendiri. Soundtrack film yang sungguh grande ditambah lagu backsound yang menyentuh dan kritik sosial yang terbungkus apik menjadikan film ini layak ditonton. Namun jangan lupa tetap mendampingi anak-anak Anda menonton film ini karena banyak adegan kekerasan di paruh pertama film.


***